Santri Siaga Jiwa dan Raga, Energi Baru Indonesia di Era Digital

Rofii'atul Fitriyyah, S.Ag, MPd. Ketua Bidang Komunikasi, Informasi dan Digital (KOMDIGI) DPP Pemuda Lira  (Foto: pribadi)

Oleh: Rofii’atul Fitriyyah, S.Ag, MPd. Ketua Bidang Komunikasi, Informasi dan Digital (KOMDIGI) DPP Pemuda Lira 

Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa ini kembali diingatkan pada satu peristiwa penting yang menjadi penentu arah kemerdekaan. Pada tahun 1945, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari mencetuskan Resolusi Jihad. Fatwa itu menegaskan bahwa membela tanah air dari penjajah adalah fardhu ain. Dari pesantren, lahirlah keberanian yang mengantarkan Indonesia merdeka seutuhnya.

Bacaan Lainnya

Hari ini, 22 Oktober 2026, kita memperingati Hari Santri Nasional dengan tema “Santri Siaga Jiwa dan Raga untuk Indonesia”. Atas arahan Ketua Umum DPP Pemuda Lira, Habibi Mahabah, SIP, MM kami di DPP Pemuda Lira, khususnya Bidang Komunikasi, Informasi dan Digital (KOMDIGI), memaknai tema ini sebagai panggilan jihad baru yang sangat relevan dengan tantangan zaman.

Jika tahun 1945 santri siaga dengan bambu runcing di medan perang fisik, maka tahun 2026 santri harus siaga di medan perang yang lebih kompleks: perang melawan hoaks, ujaran kebencian, intoleransi, dan degradasi moral di ruang digital.

Sebagai Ketua Bidang Komunikasi, Informasi dan Digital (KOMDIGI) DPP Pemuda Lira, saya melihat tiga makna penting dari “Siaga Jiwa dan Raga” untuk konteks kekinian:

Pertama, Siaga Jiwa adalah Siaga Literasi dan Nalar Kritis.

Dunia digital hari ini dibanjiri informasi tanpa filter. Pesantren sejak dulu mengajarkan kita prinsip tabayyun, memeriksa kebenaran sebelum menyebarkan. Inilah yang harus menjadi karakter santri di media sosial. Santri harus menjadi penjaga akal sehat publik, menjadi penjernih informasi, bukan penyebar kegaduhan. Siaga jiwa berarti menjaga hati tetap bersih dan pikiran tetap jernih di tengah algoritma yang memancing emosi.

Kedua, Siaga Raga adalah Siaga Karya dan Kontribusi Nyata

Jihad santri hari ini adalah jihad karya. Tidak cukup hanya pandai mengaji, santri harus pandai berkarya. Menjadi wirausahawan digital, menjadi kreator konten edukatif, menjadi inovator teknologi yang membawa nilai-nilai keberkahan pesantren. Pesantren mengajarkan kemandirian. Kemandirian inilah yang harus kita transformasikan menjadi kekuatan ekonomi dan sosial untuk Indonesia.

Ketiga, Untuk Indonesia adalah Komitmen Menjaga Persatuan

Santri Indonesia memiliki DNA yang unik: cinta agama dan cinta tanah air berjalan beriringan. Prinsip _Hubbul Wathan Minal Iman_ adalah bukti bahwa nasionalisme santri tidak perlu diragukan. Di saat ada pihak-pihak yang mencoba memecah belah bangsa dengan isu SARA, santri harus berdiri di garda terdepan sebagai perekat persatuan dari Sabang sampai Merauke.

Atas arahan Ketua Umum DPP Pemuda Lira, Habibi Mahabah, Pemuda Lira menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan seluruh elemen pesantren dan santri di Indonesia. Melalui Bidang KOMDIGI, kami berkomitmen untuk mengawal narasi kebangsaan yang positif, mencerdaskan, dan mempersatukan di ruang digital.

Kami percaya, bonus demografi Indonesia akan menjadi berkah jika dipimpin oleh generasi muda yang memiliki karakter santri: religius, berilmu, mandiri, dan nasionalis.

Mari kita isi kemerdekaan ini dengan karya, bukan dengan caci maki. Mari kita jaga Indonesia dengan ilmu, bukan dengan emosi.

Selamat Hari Santri Nasional 22 Oktober 2026.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *