Ada satu hal yang menarik dari perjalanan demokrasi: seseorang bisa bertahun-tahun berada di luar kekuasaan, mengkritik pemerintah, mempertanyakan kebijakan negara, bahkan berdebat keras dengan mereka yang sedang memegang kekuasaan. Tetapi pada suatu titik, orang yang sama bisa saja diminta masuk ke dalam lingkaran kekuasaan untuk memberikan pikiran dan pertimbangannya.
Bagi saya jika ada kesempatan beri hal baik buat rakyat dan buat bangsa ini. Kenapa harus menolak tawaran itu? Yang terpenting kita sebagai manusia tetap konsisten pada nilai kebenaran yang diperjuangkan selama ini. Jangan berubah apalagi tergadai dengan materi.
Itulah yang sekarang terjadi pada Rocky Gerung. Tak ada masalah hanya posisi berbuat kebènaran yang berubah. Jika Rocky Gerung tetap pada kebenaran yang disuarakan selama ini.
Selamat bekerja Rocky Gerung. Meski saya tidak mengenalnya, tapi usaha melakukan kebaikan di negeri ini patut kita dukung.
Tepatnya Jumat, 2 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto melantik Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres di Istana Kepresidenan. Rakyat kaget, di mana Rocky selama ini dikenal publik sebagai akademisi dan pengamat politik yang keras mengkritik pemerintah.
Nah, saat Rocky masuk ke lingkungan Istana tentu menimbulkan berbagai respons. Kenapa? Karena kita belum paham apa itu berbuat baik di lingkaran politik.
Ada yang melihatnya sebagai sesuatu yang kontradiktif. Ada yang mempertanyakan konsistensinya. Ada pula yang menganggap masuknya seorang pengkritik ke dalam kekuasaan sebagai sesuatu yang justru menarik untuk diuji.
Menurut saya, anggapan itu sah-sah saja. Itu lumarah saat negara kita sedang belajar terus berdemokrasi. Namun, kita sebagai rakyat tidak perlu tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Kita hidup di negara demokrasi.
Demokrasi bukan hanya tentang hak untuk berbicara dari luar kekuasaan. Demokrasi juga harus memberi ruang bagi orang yang selama ini kritis untuk masuk ke dalam ruang pengambilan keputusan, sepanjang ia tetap membawa prinsip, akal sehat, tanggung jawab dan keberpihakan kepada kepentingan publik.
Pertanyaan utama yang patut kita lontarkan ke Rocky yakni yang kritis. Bukan lagi: “Mengapa Rocky masuk Istana?”
Tapi pertanyaan yang jauh lebih penting yakni: “Apa yang akan Rocky lakukan setelah berada di dalam Istana?”
Itulah ukuran yang seharusnya digunakan masyarakat. Jangan menghakimi seseorang berdasarkan masa lalunya sebelum kita melihat bagaimana ia menggunakan kesempatan yang ada di hadapannya.
Dari Luar Mengkritik, dari Dalam Menguji Gagasan
Ada perbedaan besar antara menjadi pengkritik kekuasaan dan menjadi bagian dari proses pemberian pertimbangan kepada kekuasaan.
Ketika berada di luar, seseorang relatif bebas mengatakan apa yang menurutnya keliru. Tetapi ketika berada di dalam, ia menghadapi persoalan yang jauh lebih kompleks: data, birokrasi, kepentingan masyarakat yang beragam, keterbatasan anggaran, hukum, keamanan, geopolitik, serta konsekuensi nyata dari setiap kebijakan.
Dan saatnya kalian yang ada di pemerintahan pusing dan berpikir siang malam untuk rakyat. Tak bisa lagi bicara seenaknya.
Di situlah gagasan diuji. Kritik yang selama ini disampaikan harus berhadapan dengan kenyataan. Ide harus diuji dengan kebijakan. Argumentasi harus diuji dengan data. Dan keberanian berbicara harus diuji dengan keberanian mempertahankan prinsip ketika berada dekat dengan kekuasaan.
Karena itu, saya justru melihat posisi baru Rocky sebagai sebuah ruang pembuktian. Kita tunggu. Bukan pembuktian bahwa Rocky benar. Bukan pula pembuktian bahwa orang-orang yang selama ini mengkritiknya salah.
Tetapi pembuktian apakah seorang intelektual yang selama ini berada di luar lingkar kekuasaan mampu membawa tradisi berpikir kritis ke dalam ruang kekuasaan.
Václav Havel dan Pelajaran Penting tentang Intelektual
Ada pemikiran menarik dari Václav Havel, tokoh demokrasi Ceko yang kemudian menjadi presiden. Dari Vavel, kita perlu banyak belajar.
Havel pernah membahas hubungan intelektual dengan politik. Dalam tulisannya tentang tanggung jawab intelektual, ia menolak anggapan, orang-orang intelektual harus selalu berada di luar politik. Menurut Havel, keterlibatan langsung orang-orang yang memiliki kepedulian intelektual terhadap masa depan masyarakat justru dapat menjadi sesuatu yang penting bagi kehidupan politik.
Pesan Havel sangat relevan untuk membaca fenomena Rocky Gerung hari ini.
Jika seseorang selama ini mempunyai gagasan, kritik dan pemikiran tentang bagaimana negara seharusnya berjalan, mengapa kesempatan untuk menguji gagasan itu di dalam sistem harus selalu dianggap sebagai pengkhianatan terhadap masa lalu?
Bukankah justru lebih menarik apabila kritik dibawa masuk ke ruang kebijakan? Tentu ada syaratnya.
Masuk ke dalam kekuasaan tidak boleh berarti kehilangan keberanian untuk mengatakan benar ketika memang benar, dan salah ketika memang salah.
Jabatan tidak boleh membuat seorang intelektual berubah menjadi sekadar pembenar. Kekuasaan tidak boleh membuat kritik kehilangan makna.
Dan kedekatan dengan penguasa tidak boleh menghapus tanggung jawab kepada rakyat.
Nelson Mandela Memberi Pelajaran Lain
Satu tokoh dunia yakni Nelson Mandela pernah memberikan pelajaran penting tentang bagaimana seseorang dapat menghadapi perubahan posisi politik tanpa kehilangan tujuan yang lebih besar: yakni Bela Rakyat.
Mandela pernah menekankan pentingnya negosiasi, kompromi damai, rekonsiliasi dan pembangunan bangsa setelah konflik panjang. Ia melihat persatuan nasional sebagai proses yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
Pelajarannya sederhana tetapi dalam: politik tidak selalu tentang siapa yang dahulu berada di pihak mana. Politik juga tentang apa yang bisa dilakukan bersama setelah seseorang mendapatkan ruang untuk bekerja.
Dalam konteks Indonesia hari ini, kita perlu belajar membedakan antara kompromi dan pengkhianatan prinsip. Tidak setiap dialog dengan kekuasaan berarti seseorang kehilangan idealisme.
Tidak setiap orang yang masuk pemerintahan otomatis menjadi pendukung seluruh kebijakan pemerintah. Dan tidak setiap orang yang berada di luar pemerintahan otomatis lebih kritis atau lebih benar.
Ukuran akhirnya tetap sama: apa yang diperjuangkan dan apa dampaknya bagi rakyat. Kekuasaan memang harus dicurigai, tetapi jangan menutup pintu bagi orang baik
Václav Havel juga memberikan peringatan yang sangat penting. Menurutnya, politik membutuhkan sensitivitas moral, tanggung jawab, kemampuan melakukan refleksi diri, empati, sikap moderat dan kerendahan hati karena kekuasaan memiliki godaan yang besar.
Saya kira inilah titik paling penting dalam membaca masuknya Rocky Gerung ke Istana. Bukan soal apakah Rocky sekarang berada di Istana.
Tetapi apakah Rocky masih mampu menjaga jarak intelektualnya terhadap kekuasaan?
Apakah ia masih berani menyampaikan sesuatu yang tidak menyenangkan apabila memang itu yang diperlukan?
Apakah ia akan menjadi pemberi pertimbangan atau hanya pemberi pembenaran?
Apakah kritiknya akan tetap memiliki substansi?
Apakah gagasannya mampu diterjemahkan menjadi kebijakan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih sehat daripada buru-buru menyimpulkan, masuknya seseorang ke pemerintahan pasti berarti perubahan karakter atau hilangnya idealisme.
Rakyat Jangan Mudah Terjebak pada Politik Label
Kita sering terjebak dalam politik label. Kalau seseorang mengkritik pemerintah, kita anggap dia pasti benar.
Kalau seseorang masuk pemerintahan, kita anggap dia pasti berubah. Kalau seseorang berbeda pendapat dengan kelompok kita, kita anggap dia lawan.
Padahal dunia demokrasi tidak sesederhana itu. Seorang manusia memiliki perjalanan pemikiran yang panjang. Seseorang bisa mengkritik hari ini, berdialog besok, bekerja bersama lusa, lalu kembali mengkritik ketika menemukan sesuatu yang dianggap keliru.
Itu bukan selalu inkonsistensi. Bisa juga itu adalah dinamika kehidupan demokrasi.
Yang harus kita tuntut adalah konsistensi pada nilai, bukan konsistensi pada posisi. Karena posisi bisa berubah. Jabatan bisa berubah. Pemerintahan bisa berubah.
Tetapi prinsip keadilan, kepentingan rakyat, demokrasi, transparansi dan kebenaran seharusnya tetap menjadi ukuran. Jika bisa berjuang dari dalam, mengapa tidak?
Saya berpandangan sederhana: jika seseorang memiliki kesempatan untuk memperjuangkan gagasan yang diyakininya dari dalam sistem, mengapa kesempatan itu harus selalu dicurigai sebagai sesuatu yang buruk?
Tentu saja kesempatan bukan cek kosong. Masuk Istana bukan berarti Rocky mendapatkan kekebalan dari kritik.
Justru sebaliknya. Karena sekarang ia berada lebih dekat dengan pusat kekuasaan, publik berhak memberikan pengawasan yang lebih besar.
Publik berhak bertanya. Publik berhak mengkritik. Publik berhak menilai.
Dan publik berhak melihat apakah gagasan-gagasan yang selama ini disampaikan Rocky benar-benar menemukan bentuknya dalam pertimbangan kebijakan.
Saya kira inilah bentuk demokrasi yang dewasa. Bukan diskusi tanpa dasar.
Berikan kesempatan, tetapi jangan berikan kekuasaan tanpa pengawasan. Berikan ruang, tetapi jangan matikan kritik. Berikan kepercayaan, tetapi tetap minta pertanggungjawaban.
Jangan Nilai Rocky Hari Ini dari Masa Lalu Saja
Rocky Gerung mempunyai sejarah panjang sebagai pengkritik pemerintah. Itu fakta yang tidak perlu dihapus.
Tetapi fakta lain juga sudah terjadi: ia kini dipercaya menjadi bagian dari Wantimpres Presiden Prabowo.
Maka kita perlu melihat bab berikutnya. Bukan menghapus bab sebelumnya. Justru bab sebelumnya harus menjadi modal pembanding.
Kalau dulu ia kritis terhadap pemerintah, publik dapat melihat apakah sikap kritis itu tetap hidup ketika ia berada lebih dekat dengan kekuasaan.
Kalau dulu ia berbicara tentang demokrasi, publik dapat melihat bagaimana ia menerjemahkan gagasan itu dalam tugasnya.
Kalau dulu ia bicara tentang kepentingan rakyat, publik dapat menguji apakah pertimbangannya kepada Presiden benar-benar menyentuh persoalan rakyat.
Dengan demikian, publik tidak perlu menjadi hakim yang tergesa-gesa. Biarkan rekam kerja yang berbicara.
Negara Membutuhkan Orang yang Berani Berpikir
Indonesia hari ini menghadapi persoalan yang tidak sederhana. Ekonomi, lapangan kerja, pendidikan, ketimpangan, korupsi, reformasi birokrasi, teknologi, geopolitik, demokrasi, hingga masa depan anak muda membutuhkan kebijakan yang tidak hanya populer, tetapi juga rasional dan berpijak pada kepentingan masyarakat.
Karena itu, negara membutuhkan orang-orang yang mampu berpikir. Bukan hanya orang yang pandai menyetujui.
Bukan hanya orang yang pandai memuji. Dan bukan hanya orang yang pandai mengkritik.
Negara membutuhkan orang yang berani mengatakan apa yang perlu dikatakan, termasuk ketika pendapat tersebut tidak menyenangkan bagi penguasa.
Jika Rocky mampu menjalankan fungsi tersebut, maka keberadaannya di dalam sistem dapat menjadi bagian dari dinamika demokrasi yang menarik untuk diamati.
Tetapi sekali lagi, biarkan waktu dan kerja yang membuktikannya. Kebenaran tidak boleh menjadi milik kubu tertentu
Ada pelajaran penting bagi generasi muda. Jangan menjadikan kebenaran sebagai milik kelompok.
Jangan berpikir bahwa orang yang berada di kelompok kita selalu benar, sementara orang yang berada di kelompok lain selalu salah.
Kebenaran harus dicari melalui argumentasi, data, fakta dan keberanian mengoreksi diri. Inilah mengapa rakyat perlu memiliki kecernihan berpikir.
Jangan hanya bertanya, Dia berada di mana? Tanyakan juga, Apa yang dia perjuangkan? Jangan hanya bertanya, Dia dulu mengkritik siapa? Tanyakan juga, Apa yang dia lakukan sekarang?
Jangan hanya melihat siapa yang duduk di kursi kekuasaan. Lihat juga apa yang dibicarakan, apa yang diperjuangkan dan apa dampaknya bagi rakyat.
Berikan Kesempatan kepada Rocky Gerung
Saya tidak sedang meminta rakyat untuk memuja Rocky Gerung. Saya juga tidak meminta rakyat untuk berhenti mengkritiknya.
Justru sebaliknya. Saya mengajak masyarakat untuk melihatnya secara jernih.
Berikan Rocky Gerung kesempatan untuk bekerja. Uji gagasannya. Awasi langkahnya. Kritik apabila keliru. Dukung apabila kebijakannya memberi manfaat.
Dan jangan ragu mempertanyakan apabila ia mulai kehilangan keberpihakan kepada kepentingan publik.
Itulah demokrasi. Bukan kultus terhadap individu. Bukan pula kebencian terhadap individu. Kita tidak sedang mencari manusia yang tidak pernah salah.
Kita sedang mencari orang-orang yang ketika diberi kesempatan berada dekat dengan kekuasaan, tetap memiliki keberanian untuk menjaga akal sehat dan kepentingan rakyat.
Pada akhirnya, masuk Istana bukanlah akhir dari perjalanan seorang pengkritik. Justru mungkin menjadi awal dari ujian yang lebih besar.
Dari luar kekuasaan, orang bisa berbicara tentang bagaimana negara seharusnya berjalan. Dari dalam kekuasaan, ia harus membuktikan apakah gagasan itu benar-benar bisa diperjuangkan.
Dan di situlah rakyat akan menjadi juri yang sesungguhnya. Bukan dengan kebencian. Bukan dengan fanatisme.
Tetapi dengan akal sehat, data, pengawasan dan keberanian mencari kebenaran. Jika Rocky Gerung mampu membawa tradisi berpikir kritis ke dalam ruang kekuasaan, biarkan ia membuktikannya.
Jika ternyata ada yang keliru, kritiklah. Jika ada yang benar, akui.
Karena dalam demokrasi yang sehat, kita tidak boleh terlalu cepat menghakimi seseorang hanya karena ia berpindah posisi.
Yang harus kita nilai adalah apa yang ia lakukan setelah mendapatkan kesempatan. Dan untuk itu, saya memilih satu sikap sederhana: beri kesempatan Rocky Gerung bekerja, tetapi jangan pernah berhenti mengawasinya.
Sebab kekuasaan membutuhkan kritik, dan kritik yang baik pada akhirnya harus berani masuk ke ruang tempat keputusan dibuat.
Oleh: Habibie Mahabbah, SIP, MM, Ketua Umum DPP Pemuda LIRA, Mantan Ketua Himapol Universitas Jakarta (Unija) dan Mantan Presidium Nasional Asosiasi Mahasiswa Politik Indonesia (AMIPI)






