Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalimantan Selatan I
Ada kalanya seseorang begitu lama terjebak dalam bayang-bayang masa lalunya. Pernah melakukan dosa, pernah salah mengambil keputusan, pernah jatuh dalam maksiat, pernah mengecewakan orang lain, bahkan mungkin pernah merasa dirinya terlalu jauh dari Allah.
Lalu muncul sebuah pertanyaan dalam hati: “Apakah Allah masih mau menerima saya?”
Jawabannya: selama pintu taubat belum tertutup dan seorang hamba benar-benar kembali kepada Allah, jangan pernah berputus asa dari rahmat-Nya.
Jangan biarkan dosa masa lalu membuat kita merasa tidak pantas menjadi orang baik.
Jangan biarkan kesalahan kemarin membuat kita berhenti memperbaiki hari ini.
Sebab dalam Islam, masa lalu adalah pelajaran, bukan alasan untuk menyerah.
ALLAH SENDIRI MELARANG HAMBA-NYA BERPUTUS ASA
Allah SWT berfirman: “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” QS. Az-Zumar: 53
Ayat ini begitu kuat. Allah tidak memanggil mereka dengan sebutan “orang-orang yang sempurna”.
Allah tidak mengatakan hanya orang yang tidak pernah berdosa yang boleh kembali.
Sebaliknya, Allah memanggil “hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri.”
Artinya, sebesar apa pun kesalahan seseorang, jangan sampai kesalahan itu membuatnya kehilangan harapan kepada Allah.
Yang berbahaya bukan hanya dosa. Yang juga sangat berbahaya adalah putus asa dari rahmat Allah.
Karena ketika seseorang merasa dirinya tidak mungkin diampuni, ia bisa berhenti mengetuk pintu-Nya. Padahal pintu itu masih terbuka.
TAUBAT BUKAN SEKADAR MENANGIS
Taubat bukan hanya mengucapkan astaghfirullah. Taubat adalah sebuah perjalanan pulang.
Ada penyesalan terhadap dosa, meninggalkan dosa tersebut, bertekad tidak mengulanginya, dan apabila menyangkut hak manusia, maka hak tersebut harus dikembalikan atau diselesaikan dengan cara yang benar.
Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya…” QS. At-Tahrim: 8
Taubat yang sungguh-sungguh disebut taubatan nasuha. Bukan sekadar takut karena ketahuan. Bukan sekadar menangis karena malu. Bukan sekadar berubah ketika sedang menghadapi masalah.
Tetapi benar-benar menyadari: “Ya Allah, aku telah jauh. Sekarang aku ingin pulang.”
KISAH NABI ADAM: JATUH, MENYESAL, LALU KEMBALI
Salah satu pelajaran terbesar tentang taubat dapat kita lihat dari kisah Nabi Adam AS.
Nabi Adam AS pernah melakukan kesalahan setelah memakan sesuatu yang dilarang Allah. Namun beliau tidak membela diri, tidak menyalahkan siapa pun, dan tidak mempertahankan kesalahannya.
Allah mengabadikan doa Nabi Adam dan Hawa: “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” QS. Al-A’raf: 23
Perhatikan kalimatnya. Mereka mengakui kesalahan. Mereka memohon ampun. Mereka mengharapkan rahmat. Inilah salah satu karakter penting seorang mukmin ketika melakukan kesalahan: bukan mencari alasan, tetapi mencari jalan pulang.
KISAH PEMBUNUH 100 JIWA
Ada sebuah kisah yang sangat masyhur dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Dikisahkan seorang laki-laki telah membunuh 99 orang. Ia kemudian bertanya kepada seorang ahli ibadah apakah masih ada kesempatan untuk bertaubat.
Ahli ibadah tersebut menjawab bahwa tidak ada taubat baginya. Orang itu kemudian membunuhnya, sehingga genaplah 100 orang yang telah dibunuhnya.
Namun ia masih ingin kembali kepada Allah. Ia kemudian bertemu seorang alim. Kepada orang alim itu ia bertanya apakah masih ada jalan taubat.
Orang alim tersebut menjawab bahwa siapa yang dapat menghalangi seseorang dari taubat?
Ia kemudian dinasihati untuk meninggalkan lingkungan buruknya dan pergi menuju tempat yang dihuni orang-orang saleh.
Laki-laki itu pun berangkat. Namun sebelum sampai ke tempat tujuan, kematian menjemputnya.
Terjadi perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat azab mengenai dirinya. Kemudian Allah menentukan bahwa ia lebih dekat kepada tempat yang ditujunya untuk bertaubat.
Kisah ini bukan pembenaran terhadap kejahatan. Justru sebaliknya.
Kisah ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah kepada orang yang benar-benar ingin berubah.
Orang itu tidak hanya berkata, “Saya bertaubat.” Ia bergerak meninggalkan lingkungan dosa. Ia mengubah arah hidupnya.
Dan di situlah letak pelajarannya. Taubat harus melahirkan perubahan.
RASULULLAH SAW: PINTU TAUBAT SELALU TERBUKA
Rasulullah SAW bersabda: “Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar orang yang berbuat dosa pada siang hari bertaubat, dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar orang yang berbuat dosa pada malam hari bertaubat.” HR. Muslim
Bayangkan. Manusia mungkin sudah lelah mendengar kesalahan kita.
Teman mungkin sudah tidak percaya. Masyarakat mungkin mengingat masa lalu kita. Tetapi Allah masih membuka pintu.
Siang terbuka. Malam terbuka. Selama kesempatan hidup masih diberikan, kesempatan untuk kembali juga masih ada.
Rasulullah SAW juga bersabda: “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.” HR. Ibnu Majah
Maka jangan pernah mengatakan: “Saya sudah terlalu kotor untuk menjadi orang baik.”
Justru orang yang pernah jatuh dan kemudian bangkit bisa memiliki kesadaran yang sangat dalam tentang arti perjuangan.
ALLAH BISA MENGUBAH DOSA MENJADI KEBAIKAN
Ada ayat yang bahkan lebih menakjubkan.
Allah SWT berfirman: “Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” QS. Al-Furqan: 70
Ini adalah kabar yang luar biasa. Taubat yang benar bukan hanya menghapus dosa.
Allah bahkan menyebut kemungkinan keburukan mereka diganti dengan kebaikan. Maka seseorang tidak seharusnya terus hidup sebagai tawanan masa lalu.
Kalau dahulu waktunya digunakan untuk maksiat, sekarang gunakan untuk ibadah. Kalau dahulu lisannya menyakiti orang, sekarang gunakan untuk berkata baik. Kalau dahulu hartanya digunakan untuk hal yang salah, sekarang gunakan untuk membantu sesama. Kalau dahulu dirinya menjadi sumber masalah, sekarang jadilah bagian dari solusi. Itulah transformasi.
JANGAN MENILAI SESEORANG HANYA DARI MASA LALUNYA
Manusia sering melakukan kesalahan dalam menilai orang lain. Kita melihat seseorang dari apa yang pernah dilakukannya.
Padahal kita tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam hatinya. Kita tahu siapa dia kemarin.
Tetapi kita tidak tahu siapa dia setelah menangis dalam sujudnya malam ini. Kita tahu kesalahannya.
Tetapi kita tidak tahu berapa banyak istighfar yang telah ia ucapkan. Kita tahu masa lalunya.
Tetapi kita tidak tahu seberapa keras ia sedang berjuang memperbaiki masa depannya. Karena itu, jangan mudah menghukum seseorang hanya karena masa lalunya.
Manusia boleh mengingat kesalahan, tetapi Allah membuka pintu perubahan.
KISAH UMAR BIN KHATTAB DAN PERUBAHAN SEORANG MANUSIA
Lihatlah sejarah Islam. Umar bin Khattab RA pada masa sebelum Islam dikenal sebagai sosok yang keras terhadap kaum Muslimin.
Namun setelah mendapatkan hidayah, beliau berubah menjadi salah satu sahabat terbesar Rasulullah SAW.
Beliau menjadi khalifah yang dikenal dengan ketegasan, keadilan, keberanian dan kepeduliannya terhadap rakyat. Masa lalunya tidak menjadi akhir ceritanya.
Justru perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa hidayah dapat mengubah arah seseorang secara total.
Maka jangan pernah mengatakan seseorang tidak mungkin berubah. Bisa jadi orang yang hari ini sedang kita remehkan karena masa lalunya, suatu hari justru menjadi manusia yang paling banyak memberikan manfaat.
KEKINIAN: MEDIA SOSIAL JANGAN MENJADI PENGADILAN ABADI
Di zaman digital, dosa dan kesalahan seseorang bisa direkam, disimpan, dibagikan, dan diungkit kembali berkali-kali.
Satu kesalahan dapat menjadi jejak digital. Satu video dapat beredar bertahun-tahun.
Satu komentar dapat terus muncul ketika seseorang sedang berusaha berubah. Di sinilah kita membutuhkan kebijaksanaan.
Jangan jadikan media sosial sebagai tempat menghakimi taubat seseorang. Jika seseorang sudah mengakui kesalahan, memperbaiki diri, meminta maaf, dan meninggalkan keburukannya, berikan ruang untuk berubah.
Bukan berarti kita mengabaikan keadilan. Bukan pula berarti semua kesalahan harus dilupakan tanpa penyelesaian. Hak orang lain tetap harus dikembalikan. Korban tetap harus mendapatkan keadilan.
Kesalahan tetap harus dipertanggungjawabkan. Namun setelah seseorang menyelesaikan kesalahannya dan sungguh-sungguh berubah, jangan terus-menerus menjadikan masa lalunya sebagai senjata untuk menghancurkan kehidupannya.
Allah mengajarkan taubat. Kita pun seharusnya belajar memberi kesempatan untuk perbaikan.
JANGAN MENUNDA TAUBAT
Salah satu jebakan terbesar manusia adalah berkata: “Nanti saja saya taubat.”
Nanti kalau sudah tua. Nanti kalau sudah menikah. Nanti kalau sudah punya uang. Nanti kalau pekerjaan sudah mapan. Nanti kalau sudah puas menikmati dunia.
Padahal kita tidak pernah diberi kepastian tentang kapan kematian datang.
Allah SWT berfirman: “Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang melakukan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, barulah dia mengatakan, ‘Saya benar-benar bertaubat sekarang.’” QS. An-Nisa: 18
Karena itu, jangan menunggu tua untuk menjadi baik. Jangan menunggu sakit untuk mengingat Allah. Jangan menunggu kehilangan untuk bersyukur. Jangan menunggu kematian mendekat untuk mulai shalat.
Kalau hari ini hati kita digerakkan untuk kembali kepada Allah, jangan ditunda.
SEPERTIGA MALAM: SAAT YANG INDAH UNTUK PULANG
Di tengah malam, ketika banyak manusia tertidur, seorang hamba dapat berdiri sendirian di hadapan Allah.
Tidak ada kamera. Tidak ada penonton. Tidak ada pujian. Tidak ada pencitraan. Hanya seorang hamba dan Rabb-nya.
Rasulullah SAW bersabda bahwa pada sepertiga malam terakhir, Allah menyeru hamba-hamba-Nya untuk berdoa dan memohon ampun, sebagaimana diriwayatkan dalam HR. Bukhari dan Muslim.
Maka jika malam ini hati terasa berat, cobalah bangun. Ambil wudhu. Laksanakan shalat tahajud.
Kemudian jangan hanya meminta dunia. Ceritakan kepada Allah tentang kelemahan kita.
Tentang dosa yang kita sesali. Tentang kesalahan yang ingin kita tinggalkan. Tentang keluarga yang ingin kita bahagiakan. Tentang hati yang ingin kita bersihkan.
Lalu katakan: “Ya Allah, aku ingin pulang.” Tidak perlu kalimat yang terlalu indah. Allah mengetahui isi hati kita bahkan sebelum kita mengucapkannya.
TAUBAT HARUS DIIKUTI PERUBAHAN
Kalau ingin benar-benar bertaubat, mulailah dari hal-hal sederhana.Tinggalkan dosa yang diketahui.
Jaga shalat lima waktu. Perbanyak istighfar.
Baca Al-Qur’an. Jaga pergaulan. Jauhi lingkungan yang terus menyeret kepada maksiat. Kembalikan hak orang lain.
Minta maaf jika memang harus meminta maaf. Perbaiki hubungan dengan keluarga.
Sedekah sesuai kemampuan. Bantu orang yang membutuhkan.
Dan yang paling penting: jangan merasa sudah menjadi orang suci hanya karena sudah bertaubat. Taubat membutuhkan kerendahan hati.
Hari ini kita bertaubat. Besok kita masih mungkin tergelincir. Jika tergelincir, jangan menyerah. Bertaubat lagi.
Jika jatuh lagi, bangkit lagi. Jika lemah lagi, minta kekuatan lagi.
Karena perjuangan melawan hawa nafsu adalah perjalanan panjang.
JANGAN MENYERAH HANYA KARENA PERNAH JATUH
Pernah melakukan dosa bukan berarti kita harus menjadi pendosa selamanya. Pernah gagal bukan berarti kita akan gagal selamanya. Pernah salah bukan berarti hidup kita selesai. Pernah jauh dari Allah bukan berarti Allah tidak mau menerima kita.
Yang penting adalah arah langkah kita sekarang. Mungkin langkah kita masih kecil. Tidak apa-apa.
Yang penting menuju Allah. Mungkin ibadah kita belum sempurna. Teruslah memperbaiki.
Mungkin hati kita masih sering berperang dengan hawa nafsu. Teruslah berjuang.
Mungkin orang lain masih mengingat kesalahan kita. Tidak apa-apa.
Selama Allah mengetahui bahwa kita benar-benar sedang berusaha berubah.
HIKMAH TERBESAR: JANGAN SOMBONG KETIKA MELIHAT ORANG BERDOSA
Ada satu pelajaran penting.Ketika melihat orang lain melakukan dosa, jangan langsung merasa lebih suci.
Kita tidak tahu bagaimana akhir hidupnya. Dan kita juga tidak tahu bagaimana akhir hidup kita.
Orang yang hari ini melakukan kesalahan mungkin saja besok bertaubat dan menjadi lebih dekat kepada Allah.
Sementara seseorang yang hari ini merasa dirinya baik, belum tentu mampu mempertahankan kebaikannya sampai akhir hayat.
Karena itu, mintalah kepada Allah husnul khatimah. Bukan hanya ingin hidup dalam kebaikan, tetapi juga ingin meninggal dalam keadaan beriman dan diridhai Allah.
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya amalan itu tergantung pada akhirnya.”
Makna ini mengingatkan kita bahwa perjalanan hidup harus terus dijaga sampai akhir.
ALLAH TIDAK MEMINTA KITA MENJADI MANUSIA TANPA DOSA
Kita manusia. Kita bisa salah. Kita bisa lupa. Kita bisa tergelincir.
Tetapi jangan jadikan kelemahan manusia sebagai alasan untuk berhenti mencari Allah.
Allah tidak meminta kita menjadi manusia yang tidak pernah salah.Allah mengajarkan kita untuk kembali ketika salah.
Maka jangan malu untuk menangis dalam doa. Jangan malu mengangkat tangan.
Jangan malu mengatakan: “Ya Allah, ampuni aku.” Jangan malu kembali ke masjid. Jangan malu membuka Al-Qur’an lagi. Jangan malu memulai shalat lagi. Jangan malu memperbaiki diri.
Malu kepada Allah seharusnya menjadi jalan untuk kembali kepada-Nya, bukan alasan untuk menjauh dari-Nya.
JANGAN BIARKAN SETAN MENANG DUA KALI
Dosa adalah satu kekalahan. Tetapi ketika setelah melakukan dosa kita kemudian berkata: “Saya sudah terlalu buruk. Tidak mungkin Allah mengampuni saya.”
Maka setan seolah mendapatkan kemenangan kedua. Karena itu, lawan bisikan tersebut dengan firman Allah: “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”
Katakan kepada diri sendiri: “Saya memang pernah salah, tetapi saya masih bisa berubah.”
“Saya pernah jatuh, tetapi saya masih bisa bangkit.”
“Saya pernah jauh, tetapi saya masih bisa pulang.”
Dan yang paling penting:
“Allah masih memberi saya kesempatan.”
PENUTUP: MASA LALU SUDAH BERLALU
Masa lalu tidak bisa diubah. Tetapi makna masa lalu bisa berubah ketika kita menjadikannya pelajaran.
Kesalahan bisa menjadi guru. Kegagalan bisa menjadi jalan kedewasaan.
Air mata bisa menjadi jalan kedekatan kepada Allah. Dan dosa yang telah ditaubati dengan sungguh-sungguh dapat menjadi titik balik kehidupan.
Jangan terus hidup sebagai tahanan masa lalu. Hari ini adalah kesempatan.
Kesempatan untuk shalat lebih baik. Kesempatan untuk meminta maaf. Kesempatan untuk memaafkan. Kesempatan untuk bersedekah. Kesempatan untuk membaca Al-Qur’an. Kesempatan untuk membahagiakan orang tua. Kesempatan untuk memperbaiki keluarga. Kesempatan untuk meninggalkan maksiat. Kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat.
Sebab kita tidak tahu apakah besok masih menjadi milik kita. Maka jika hari ini hati kita mengetuk pintu taubat, bukalah pintu itu sekarang.
Jika malam ini Allah membangunkan hati kita, jangan abaikan.Ambil wudhu. Dirikan tahajud. Perbanyak istighfar. Menangislah jika perlu.
Lalu berdoalah: “Ya Allah, aku bukan manusia yang sempurna. Aku pernah salah. Aku pernah jauh. Aku pernah mengecewakan-Mu. Tetapi hari ini aku ingin kembali. Jangan biarkan hatiku kembali tersesat setelah Engkau tunjukkan jalan. Ampuni dosa-dosaku, perbaiki hidupku, bersihkan hatiku, kuatkan langkahku, dan karuniakan kepadaku husnul khatimah.”
Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” QS. Al-‘Ankabut: 69
Maka ingatlah selalu:
ALLAH TIDAK MEMINTAMU UNTUK MENGUBAH MASA LALU.
ALLAH MEMINTAMU UNTUK MEMPERBAIKI DIRI MULAI HARI INI.
Jangan sibuk membuktikan kepada manusia bahwa kita sudah berubah. Buktikan kepada Allah melalui amal.
Jangan takut pada label masa lalu. Takutlah jika kita tidak mau berubah.
Dan jangan pernah berhenti berharap kepada rahmat Allah. Karena selama napas masih berembus, selama hati masih berdetak, dan selama kesempatan hidup masih diberikan, pintu taubat masih menjadi salah satu pintu terindah untuk pulang kepada-Nya.
Astaghfirullahal ‘azhim, alladzi la ilaha illa huwa, al-hayyul qayyum, wa atubu ilaih.
Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung. Tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup dan Yang Maha Berdiri Sendiri. Dan aku bertaubat kepada-Nya.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, menerima taubat kita, memperbaiki hidup kita, menjaga keluarga kita, melapangkan rezeki kita, memberikan keberkahan dalam setiap langkah kita, dan menutup kehidupan kita dengan husnul khatimah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.






