Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin
Dalam kehidupan, kita akan bertemu dengan banyak orang. Ada yang tulus, ada yang baik, ada pula yang hanya pandai berkata-kata. Pada awalnya, mungkin kita sulit membedakannya. Namun, semakin lama kita mengenal seseorang, semakin mudah kita melihat siapa yang benar-benar tulus dan siapa yang hanya ingin terlihat baik.
Seperti semut yang tidak akan tertipu hanya karena sebuah toples diberi tulisan “garam”. Semut tidak membaca tulisan, tetapi mengenali isinya. Begitu pula kita. Jangan hanya melihat apa yang dikatakan seseorang. Perhatikan juga apa yang dilakukannya.
Seseorang bisa berkata baik, tetapi belum tentu perbuatannya baik. Seseorang bisa berjanji banyak, tetapi belum tentu menepatinya. Sebaliknya, ada orang yang tidak banyak bicara, tetapi selalu berusaha menepati janji dan membantu ketika dibutuhkan.
Karena itu, jangan terlalu cepat percaya hanya karena kata-kata yang indah. Lihatlah sikapnya, perbuatannya, dan bagaimana ia memperlakukan orang lain, terutama ketika tidak ada kepentingan yang ingin diperoleh. Di situlah ketulusan biasanya terlihat.
Waktu juga akan membantu kita melihat kebenaran. Apa yang dibuat-buat mungkin bisa bertahan untuk sementara, tetapi sulit disembunyikan selamanya. Cepat atau lambat, sikap dan perbuatan akan menunjukkan keadaan yang sebenarnya.
Tetapi pengalaman buruk jangan membuat kita selalu berpikir buruk tentang orang lain. Pernah kecewa bukan berarti semua orang akan mengecewakan. Pernah dibohongi bukan berarti semua orang adalah pembohong. Jadikan pengalaman sebagai pelajaran agar kita lebih hati-hati, bukan sebagai alasan untuk selalu curiga.
Kita boleh berhati-hati tanpa membenci. Kita boleh menjaga jarak tanpa bermusuhan. Kita boleh memaafkan tanpa harus memberikan kembali kepercayaan seperti sebelumnya. Kita juga boleh tetap berbuat baik, tetapi tidak perlu membiarkan kebaikan kita dimanfaatkan.
Yang tidak kalah penting, jangan terlalu sibuk mencari kesalahan orang lain. Sebelum menilai orang lain, lihatlah diri kita sendiri. Jangan sampai kita menuntut orang lain untuk jujur, sementara kita masih sering menyembunyikan kesalahan sendiri. Jangan sampai kita kecewa melihat orang memakai topeng, sementara kita juga sedang memakai topeng yang berbeda.
Walhasil, kita tidak harus mengetahui semua keburukan orang lain. Tugas kita adalah menjaga diri agar tetap berada di jalan yang benar. Jika ada yang tidak tulus kepada kita, biarlah waktu yang membuktikannya. Kita tidak perlu membalas kepalsuan dengan kepalsuan, kebencian dengan kebencian, atau keburukan dengan keburukan.
Kebenaran mungkin bisa ditutupi untuk sementara, tetapi sulit disembunyikan selamanya. Ketulusan mungkin tidak selalu terlihat dalam kata-kata, tetapi akan tampak dalam perbuatan.
Karena itu, jangan terlalu sibuk bertanya, “Siapa yang sedang berpura-pura?” Lebih baik kita bertanya kepada diri sendiri, “Apakah aku sudah menjadi orang yang jujur, tulus, dan dapat dipercaya?”
Sebab memperbaiki diri jauh lebih penting daripada sibuk membongkar kekurangan orang lain.





