JAKARTA — Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar sekaligus Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI Muhammad Sarmuji menegaskan bahwa kualitas demokrasi di Indonesia harus terus dijaga melalui sikap yang bertanggung jawab di ruang publik. Menurutnya, demokrasi tidak hanya berkaitan dengan proses politik formal, tetapi juga ditentukan oleh cara masyarakat dan para pemimpin berinteraksi, berdiskusi, serta menyikapi perbedaan pandangan.
Sarmuji menilai bahwa komitmen terhadap etika politik, dialog yang sehat, serta penghormatan terhadap perbedaan merupakan fondasi penting dalam membangun budaya politik yang matang dan konstruktif di Indonesia. Tanpa nilai-nilai tersebut, demokrasi berpotensi terjebak pada konflik yang tidak produktif.
“Demokrasi yang sehat tidak hanya diukur dari prosedur pemilu atau mekanisme kelembagaan semata, tetapi juga dari kualitas percakapan publik kita. Jika ruang publik diisi dengan dialog yang sehat, maka demokrasi akan tumbuh dengan kuat,” kata Sarmuji dalam keterangannya, Senin (9/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa perbedaan pandangan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam sistem demokrasi. Namun demikian, perbedaan tersebut seharusnya dipandang sebagai kekayaan pemikiran yang dapat memperkaya proses pengambilan kebijakan.
“Perbedaan adalah keniscayaan dalam demokrasi. Justru dari perbedaan itu lahir ide, kritik, dan solusi yang dapat memperbaiki kebijakan publik. Yang penting adalah bagaimana kita mengelola perbedaan itu dengan sikap yang dewasa,” ujarnya.
Sarmuji juga menekankan pentingnya etika dalam berpolitik, terutama di tengah perkembangan teknologi informasi yang membuat ruang publik semakin terbuka. Ia mengingatkan bahwa kebebasan berpendapat tidak boleh disalahgunakan untuk menyebarkan kebencian atau memperkeruh suasana politik.
“Kita harus memanfaatkan ruang publik dengan penuh tanggung jawab. Kebebasan berbicara adalah hak yang dilindungi demokrasi, tetapi kebebasan itu juga harus diiringi dengan kesadaran untuk menjaga persatuan dan menghormati orang lain,” jelasnya.
Menurut Sarmuji, sikap saling menghargai dalam perbedaan akan membantu menciptakan iklim politik yang lebih kondusif. Hal ini penting agar diskusi publik tidak berubah menjadi pertikaian yang justru merugikan masyarakat.
“Budaya politik yang matang ditandai dengan kemampuan kita untuk berbeda pendapat tanpa harus bermusuhan. Kritik boleh keras, tetapi tetap harus disampaikan dengan cara yang beradab dan bertanggung jawab,” katanya.
Sebagai pimpinan fraksi di DPR, Sarmuji menilai bahwa lembaga legislatif juga harus menjadi contoh dalam menjaga kualitas dialog politik. Ia mengatakan bahwa perdebatan di parlemen seharusnya menjadi ruang untuk memperkaya gagasan dan menghasilkan kebijakan terbaik bagi rakyat.
“Di parlemen, perdebatan adalah sesuatu yang wajar. Namun perdebatan itu harus bertujuan untuk mencari solusi terbaik, bukan sekadar memenangkan argumentasi,” ujarnya.
Lebih jauh, Sarmuji juga mengajak seluruh elemen bangsa, mulai dari tokoh politik, akademisi, media, hingga masyarakat luas, untuk bersama-sama menjaga kualitas demokrasi. Ia menilai bahwa demokrasi yang kuat membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh komponen masyarakat.
“Kualitas demokrasi adalah tanggung jawab bersama. Jika semua pihak berkomitmen menjaga etika, menghargai perbedaan, dan mengedepankan dialog yang sehat, maka demokrasi Indonesia akan semakin matang,” katanya.
Sebagai bagian dari Partai Golkar, Sarmuji menegaskan bahwa partainya berkomitmen untuk terus mendorong praktik politik yang konstruktif dan berorientasi pada kepentingan rakyat. Ia berharap politik dapat menjadi sarana untuk memperkuat persatuan dan membangun masa depan bangsa.
“Politik seharusnya menjadi jalan untuk menyatukan berbagai gagasan demi kemajuan bangsa. Karena itu, kita harus memastikan bahwa demokrasi dijalankan dengan penuh tanggung jawab, menjunjung etika, serta menghormati keberagaman pandangan,” pungkasnya.






