JAKARTA – Suasana pengajian tahsin Al-Qur’an di Kantor DPD Partai Golkar DKI Jakarta biasanya berlangsung khidmat. Namun belakangan, ada satu “jamaah” unik yang selalu mencuri perhatian.
Namanya Wati, seekor kucing yang sudah lama menjadi bagian dari keseharian para pengurus bahkan sudah dianggap bagian keluarga Golkar DKI Jakarta. Bukan benar-benar santriwati seorang siswi yang biasanya mondok belajar agama Islam di pesantren.
Wati bukan kucing biasa. Setiap ada kelas tahsin rutin, ia hampir tak pernah absen di sejumlah kegiatan DPD Golkar DKI Jakarta. Kadang datang tepat waktu, kadang sedikit terlambat, tapi tetap saja muncul. Ia bisa duduk manis di kursi, atau lebih sering rebahan santai di atas meja sampai kelas selesai.
“Iya, dia selalu ada di kelas setiap ada tahsin. Suka ikut duduk menyimak materi,” kata salah satu pengurus sambil tersenyum menyampaikan kelakuan Wati si kucing manis.
Kehadiran Wati bahkan mendapat perhatian khusus dari Wakil Ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta, HM Ashraf Ali. Dengan nada santai namun penuh apresiasi, Ashraf memuji “santri” berbulu itu.
“Kucing yang namanya Wati itu luar biasa. Keren nih kucing dinda,” saat dihubungi usai shalat Subuh, Jakarta, Ahad (22/2/2026).
Ashraf juga mengungkapkan bahwa nama Wati bukanlah sebutan baru. “Sudah lama dinda pengurus menyebutnya Wati,” tambahnya, menegaskan bahwa kucing tersebut memang sudah menjadi bagian dari keluarga besar kantor Golkar DKI Jakarta.
Candaan pun kerap muncul di sela pengajian. Ada yang berseloroh merasa kalah rajin. “Saya kalah rajin sama si Wati,” celetuk seorang peserta. Yang lain mengaku malu karena seekor kucing saja bisa konsisten hadir.
Bagi para pengurus, Wati membawa warna tersendiri. Di tengah dinamika politik ibu kota, ia hadir sebagai pengingat sederhana tentang konsistensi.
Ia memang tidak paham tajwid, tidak mengerti tafsir, dan tentu saja tak tahu urusan partai. Tapi ia datang, duduk, dan “menyimak” dengan caranya sendiri.
Di sela rapat Ramadhan dan persiapan buka puasa bersama, Wati juga tampak setia berada di sekitar ruangan. Kehadirannya selalu berhasil mencairkan suasana.
Boleh jadi, dari seekor kucing bernama Wati, terselip pesan ringan namun bermakna: tentang istiqamah, tentang kebiasaan baik, dan tentang hadir di majelis ilmu—meski hanya dengan langkah pelan dan ekor yang bergoyang santai.






