Topeng Kebenaran & Fitnah yang Dirayakan: Ketika Ukhuwah Terkoyak oleh Ambisi dan Aib Dipertontonkan

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin, Makassar

Ada masa ketika saudara menjaga saudara bukan dengan sorotan, tetapi dengan keheningan yang penuh kehormatan. Ada masa ketika kesalahan ditutup rapat oleh cinta, dan kebenaran disampaikan dengan lembut tanpa melukai. Namun hari ini, kita menyaksikan sesuatu yang lebih menyakitkan daripada sekadar perbedaan: persaudaraan berubah menjadi panggung pertarungan, dan aib dijadikan senjata untuk saling menjatuhkan.

Bacaan Lainnya

Lebih tragis lagi, konflik itu tidak lahir dari orang-orang awam yang belum memahami nilai agama, tetapi justru dari mereka yang dikenal sebagai penjaga moral, penyampai kebenaran, bahkan panutan masyarakat. Lisan mereka fasih menyampaikan dalil, tetapi sayang, hati mereka terkadang lalai menjaga adab dalam perbedaan. Mereka berbicara atas nama kebenaran, namun yang tampak justru pertarungan kepentingan, kecemburuan, dan ambisi yang terselubung.

Di sinilah ironi itu mencapai puncaknya, ketika agama dijadikan legitimasi untuk menjatuhkan, bukan untuk menguatkan, ketika dalil digunakan sebagai alat pembenaran diri, bukan sebagai cahaya untuk introspeksi.

Allah SWT. telah mengingatkan dengan sangat halus namun tegas:
وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ
“Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.” (QS. Al-Hujurat: 11)

Para ulama menjelaskan bahwa “mencela dirimu sendiri” dalam ayat ini bermakna mencela saudaramu sesama Muslim. Karena hakikatnya, mereka adalah bagian dari dirimu. Maka ketika seseorang menjatuhkan saudaranya di hadapan publik, sejatinya ia sedang meruntuhkan kehormatan dirinya sendiri, hanya saja ia tidak menyadarinya.

Lebih dalam lagi, Allah menggambarkan penyakit hati yang sering menjadi akar konflik itu:
وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ
“Banyak dari Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang timbul dari diri mereka sendiri…” (QS. Al-Baqarah: 109)

Jika dengki saja mampu merusak iman, maka bagaimana dengan dengki yang dibungkus dengan retorika agama? Ia menjadi lebih berbahaya, karena tampak benar di permukaan, tetapi menghancurkan dari dalam.

Rasulullah SAW. memberikan peringatan yang sangat menggetarkan:
لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
“Janganlah kalian saling dengki, saling membenci, saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim)

Namun hari ini, kita melihat kebalikannya. Persaudaraan retak karena ambisi. Ukhuwah terkoyak oleh ego. Bahkan tidak sedikit yang rela membuka aib diri sendiri, hanya untuk menyeret jatuh saudaranya di hadapan publik, demi meraih simpati dan dukungan.

Padahal dalam pandangan Islam, membuka aib sendiri bukanlah keberanian, tetapi tanda lemahnya penjagaan diri. Rasulullah SAW.bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِين
“Seluruh umatku akan diampuni kecuali orang-orang yang terang-terangan (membuka dosa mereka).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak hanya membuka aib sendiri, tetapi juga membuka aib orang lain, bahkan membesar-besarkannya di hadapan masyarakat?

Di sinilah kita perlu merenung lebih dalam: apakah ini benar-benar perjuangan menegakkan kebenaran, atau sekadar perlombaan mencari pembenaran?

Imam Malik pernah berkata:
لَيْسَ كُلُّ مَا يُعْلَمُ يُقَالُ
“Tidak semua yang diketahui harus diucapkan.”

Kalimat ini sederhana, tetapi mengandung kedalaman etika yang luar biasa. Karena dalam kehidupan sosial, kebenaran tidak hanya diukur dari isi, tetapi juga dari cara dan waktu penyampaiannya.

Ketika dua orang yang sama-sama memahami agama saling menyerang di ruang publik, maka yang rusak bukan hanya hubungan di antara mereka, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap nilai-nilai yang mereka bawa. Umat menjadi bingung, kehilangan teladan, bahkan bisa kehilangan kepercayaan terhadap agama itu sendiri.

Lebih menyedihkan lagi, konflik itu sering kali dipicu oleh kecemburuan yang halus, bukan karena kekurangan diri, tetapi karena kelebihan orang lain. Ketika seseorang tidak mampu menerima kehebatan saudaranya, maka ia mencari celah untuk menjatuhkannya. Dan ketika celah itu tidak ditemukan, maka ia diciptakan melalui narasi dan persepsi.

Hasan Al-Bashri Rahimahillah pernah mengingatkan:
الْمُؤْمِنُ يَسْتُرُ وَيَنْصَحُ، وَالْفَاجِرُ يَهْتِكُ وَيُعَيِّرُ
“Seorang mukmin menutup (aib) dan menasihati, sedangkan orang fajir membuka dan mencela.”

Kalimat ini menjadi cermin yang jujur bagi kita semua, di posisi manakah kita berdiri hari ini?. Apakah kita menjadi penutup aib yang penuh kasih, atau justru menjadi penyebar luka yang berkedok kebenaran?

Persaudaraan bukan sekadar hubungan, tetapi amanah. Ia bukan hanya tentang kedekatan, tetapi tentang kemampuan menjaga kehormatan satu sama lain, bahkan ketika berbeda.

Ukhuwah yang sejati tidak runtuh karena perbedaan, tetapi hancur karena hilangnya keikhlasan. Dan keikhlasan itu tidak akan pernah bertahan dalam hati yang dipenuhi ambisi, iri, dan keinginan untuk selalu menang sendiri.

Allah SWT. menutup semua ini dengan prinsip yang sangat agung:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Ayat ini bukan sekadar perintah, tetapi juga pengingat bahwa setiap konflik di antara orang beriman adalah luka yang harus disembuhkan, bukan dipertontonkan.

Maka di tengah riuhnya fitnah yang dirayakan, dan kebenaran yang sering dipolitisasi, marilah kita kembali kepada esensi agama , yakni menjadi penjaga kehormatan, bukan pemburu kesalahan. Menjadi penenang suasana, bukan penyulut konflik. Menjadi saudara yang menguatkan, bukan yang menjatuhkan.

Karena pada akhirnya, bukan siapa yang paling banyak didukung manusia yang akan menang, tetapi siapa yang paling jujur di hadapan Allah.

Dan mungkin, di situlah letak kehormatan sejati, yakni ketika kita mampu menahan diri untuk tidak menjatuhkan, meskipun kita memiliki kesempatan untuk melakukannya.

Sebuah sabda Rasulullah SAW. yang patut dijadikan sebagai wasiat dalam membangun interaksi sosial:

يا عقبة ألا أخبرك بأفضل أخلاق أهل الدنيا والآخرة؟ تصل من قطعك، وتعطي من حرمك، وتعفو عمن ظلمك»
“Wahai ‘Uqbah, maukah jika saya( Rasulullah SAW.) beritahukan padamu tentang akhlak yang paling mulia didunia dan diakhirat kelak ? yaitu engkau menyambung tali silaturrahim dengan orang yang memutuskannya, memberi orang yang enggan memberimu, dan memaafkan orang yang menzalimi dirimu.”(HR. Ahmad).

#Wallahu A’lam Bishawab

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *