PESAN HIKMAH QS Yunus: 107 ‘Jika Allah Menimpakan Bencana padamu, Tidak Ada yang Mampu Menghilangkannya Kecuali Dia’

PESAN HIKMAH:

وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗ ٓاِلَّا هُوَ
ۚوَاِنْ يُّرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَاۤدَّ لِفَضْلِهٖ ۗ يُصِيْبُ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ ۗوَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ﴿يونس : ۱۰۷﴾

“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Yunus : 107)

PENJELASAN PESAN HIKMAH( PPH):

Pesan Hikmah yang diajarkan dari ayat ini menjelaskan dan menegaskan akan eksistensi Allah sebagai pemegang kekuasan mutlak dalam hidup ini dan eksistensi makhluq sebagai penerima taqdir Allah dengan lapang dada serta bagaimana agar manusia mampu menyikapi setiap kejadian dan fenomena alam dalam lingkungan hidupnya secara arif dan matang sesuai dengan tuntunan agama dengan penjelasan sebagai berikut:

1. “وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗ ٓاِلَّا هُوَ” (“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia.”)

Ayat ini menyoroti konsep kekuasaan mutlak Allah dalam mengatur takdir dan mengendalikan segala yang terjadi di alam semesta. Ini memicu pertanyaan tentang hakikat cobaan dan ujian dalam kehidupan manusia, serta kepercayaan bahwa Allah adalah satu-satunya yang memiliki kekuatan untuk menyelamatkan dan memberikan pertolongan dalam situasi sulit.

Selain daripada itu ayat ini mengingatkan manusia akan ketergantungan mutlak mereka pada Allah dalam menghadapi cobaan dan kesulitan. Hal ini juga menekankan pentingnya tawakal dan kesabaran dalam menghadapi ujian hidup, serta mengajarkan bahwa hanya dengan berpaling kepada Allah, manusia dapat menemukan kekuatan dan ketenangan di tengah-tengah cobaan.

2. “وَاِنْ يُّرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَاۤدَّ لِفَضْلِهٖ” (“Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya.”)

Pesan hikmah dari ayat ini menggarisbawahi bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah bagian dari rencana dan hikmah Allah yang tak terduga. Ini memunculkan pertanyaan tentang keadilan Allah dalam mendistribusikan karunia dan berkah-Nya kepada hamba-Nya, serta kebijaksanaan-Nya dalam mengatur takdir manusia.

Secara filosofis ayat ini mengajarkan manusia untuk menerima segala kebaikan dengan penuh rasa syukur dan rendah hati, serta untuk tidak pernah meragukan atau meragukan kemurahan hati Allah. Hal ini juga mengingatkan bahwa setiap kebaikan yang kita terima adalah anugerah dari Allah yang harus dihargai dan dijadikan motivasi untuk lebih mendekat kepada-Nya.

3. “يُصِيْبُ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ” (“Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.”)

Makna yang mendalam dari ayat ini menegaskan bahwa Allah memiliki kekuasaan penuh dalam memberikan kebaikan kepada siapa pun yang Dia kehendaki, tanpa memandang status atau keunggulan manusia tersebut. Ini memunculkan pertanyaan tentang prinsip pilihan dan pemberian karunia Allah, serta mengundang refleksi tentang pentingnya tawakal dan pengabdian kepada-Nya.
Aspek yang tidak kalah pentingnya bahwa ayat ini mengajarkan kita untuk tidak iri atau dengki terhadap kebaikan yang diberikan kepada orang lain, tetapi untuk menerima takdir Allah dengan penuh kerelaan hati. Hal ini juga mengingatkan bahwa setiap kebaikan yang kita terima adalah karunia dari-Nya yang harus dihargai dan dijadikan motivasi untuk lebih mendekat kepada-Nya.

4. “وَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ” (“Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.”)

Substansi dari ayat terakhir ini mengingatkan manusia akan sifat rahmat dan kasih sayang Allah yang melimpah. Ini memunculkan pertanyaan tentang esensi belas kasihan dan pengampunan Allah terhadap hamba-Nya yang berdosa, serta mengundang refleksi tentang pentingnya tobat dan taubat dalam mencari rahmat-Nya.

Pesan moril dari ayat ini mengajarkan bahwa tidak peduli seberapa besar dosa kita, Allah senantiasa siap untuk mengampuni kita jika kita kembali kepada-Nya dengan tulus dan rendah hati. Hal ini juga mengingatkan kita akan pentingnya memahami dan menghargai sifat rahmat dan pengampunan Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan menjelajahi ayat-ayat tersebut dengan lebih terperinci, kita dapat memahami makna filosofis dan pelajaran praktis yang terkandung di dalamnya, serta menggali lebih dalam tentang hubungan manusia dengan Allah dalam menghadapi cobaan dan mendapatkan karunia-Nya.
Ulasan secara komprehensif terhadap penjelasan di atas mengarah pada pemahaman yang lebih dalam tentang hubungan antara manusia dengan Allah, serta bagaimana hal itu memengaruhi interaksi sosial dan spiritual, serta sikap dan kepribadian yang harus ditunjukkan oleh manusia.

Dari segi interaksi sosial, pemahaman akan kekuasaan, kemurahan hati, dan pengampunan Allah dalam ayat-ayat tersebut dapat membentuk sikap empati, toleransi, dan kedermawanan dalam hubungan antarmanusia. Kesadaran akan takdir dan karunia Allah juga dapat mengurangi sikap iri hati dan dengki terhadap keberhasilan atau kebaikan yang diperoleh orang lain, serta memperkuat rasa syukur dan kesyukuran dalam menjalin interaksi sosial yang positif.

Dari segi interaksi spiritual, pemahaman akan kekuasaan mutlak Allah dan ketergantungan manusia pada-Nya mengajarkan pentingnya tawakal, kesabaran, dan pengabdian dalam menjalani kehidupan. Kesadaran akan kemurahan hati dan pengampunan-Nya mendorong manusia untuk selalu berusaha memperbaiki hubungan spiritual dengan Allah melalui ibadah, tobat, dan taubat. Hal ini juga memperkuat rasa kebersamaan dan keterikatan dengan sesama manusia sebagai ciptaan Allah yang satu.

Sikap dan kepribadian yang mesti ditunjukkan oleh manusia dalam konteks ini adalah sikap rendah hati, sabar, dan berserah diri kepada kehendak Allah dalam menghadapi cobaan dan kesulitan, serta sikap syukur, ikhlas, dan rendah hati dalam menerima karunia dan kebaikan-Nya. Manusia juga diharapkan untuk memiliki sikap welas asih, toleransi, dan kemurahan hati dalam berinteraksi dengan sesama manusia, serta konsisten dalam menjaga hubungan spiritual dengan Allah melalui amal ibadah dan perbuatan baik. Dengan demikian, pemahaman holistik dan komprehensif terhadap ayat-ayat tersebut dapat membentuk landasan moral dan spiritual yang kokoh bagi manusia dalam menjalani kehidupan mereka.????

Oleh: Munawir Kamaluddin, Dosen UIN Alauddin Makassar

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.