JAKARTA – Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Dapil Bali I Nyoman Parta kembali menyuarakan kekhawatirannya terhadap kondisi infrastruktur pipa BBM yang melintas di kawasan mangrove Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, Benoa.
Melalui unggahan di akun media sosialnya, Rabu (4/3/2026), Parta menilai kondisi pipa yang terlihat mengalami korosi berat sebagai ancaman serius bagi kelestarian ekosistem pesisir. Dari foto yang beredar, tampak permukaan pipa dipenuhi kerak karat dan sebagian bagian dibalut material yang diduga plastik atau resin.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak boleh dianggap sepele, terlebih lokasinya berada di kawasan konservasi yang memiliki fungsi ekologis penting. Ia menyebut penggunaan clamp darurat serta penyangga berkarat sebagai indikasi bahwa perawatan infrastruktur diduga tidak dilakukan secara optimal.
“Kalau benar hanya dilakukan pembungkusan atau tambal sulam pada pipa yang sudah mengalami korosi, itu bukan solusi jangka panjang. Ini kawasan konservasi, risikonya tidak bisa ditoleransi,” ujarnya.
Parta menegaskan bahwa mangrove di Benoa memiliki peran strategis sebagai benteng alami dari abrasi, habitat biota laut, sekaligus penyerap karbon. Kebocoran sekecil apa pun, kata dia, dapat berdampak luas terhadap sistem perakaran mangrove yang sensitif terhadap cemaran minyak.
Ia meminta perusahaan pengelola segera melakukan evaluasi teknis menyeluruh, termasuk mengganti pipa yang sudah tidak layak dengan material baru yang lebih tahan terhadap lingkungan salin serta dilengkapi sistem deteksi kebocoran modern.
Politikus asal Bali itu juga meminta penjelasan terbuka dari Pertamina terkait kondisi aktual pipa distribusi BBM tersebut dan langkah mitigasi yang telah dilakukan.
“Kawasan seperti Tahura Benoa tidak boleh menjadi titik lemah pengawasan. Keselamatan lingkungan harus menjadi prioritas utama,” tegasnya.






