BALI – Kawasan pesisir Bonoa mendadak menjadi sorotan setelah ratusan mangrove endemik Bali dilaporkan mati dan mengering. Anggota DPR RI asal Dapil Bali sekaligus pegiat lingkungan I Nyoman turun langsung ke lokasi untuk memastikan kondisi di lapangan.
Dalam pantauan di lokasi, deretan mangrove terlihat menguning, sebagian besar batangnya kering dan rapuh. Beberapa bahkan sudah tumbang. I Nyoman yang awalnya melintas di kawasan tersebut langsung menghentikan langkahnya dan berlari mendekati titik mangrove yang terdampak.
“Kami para pegiat lingkungan sangat prihatin. Mangrove yang mengering itu pohon endemik Bali, yaitu bako atau Rhizophora apiculata dan prapar atau Sonneratia alba,” ujarnya.
Mangrove Tua yang Sulit Dikembangbiakkan
Berdasarkan keterangan nelayan Simbar Segara dan pegiat Mangrove Rangers, mangrove yang mati tersebut bukan tanaman baru. Usianya disebut mencapai 12 tahun hingga ratusan tahun. Jenisnya pun termasuk yang paling sulit dikembangbiakkan secara alami maupun melalui program rehabilitasi.
Jenis Rhizophora apiculata dikenal sebagai penahan abrasi yang kuat dengan sistem akar tunjang yang rapat. Sementara Sonneratia alba memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan salinitas dan menjadi habitat biota pesisir. Kehilangan dua jenis ini bukan sekadar kehilangan vegetasi, tetapi juga ancaman bagi ekosistem pesisir secara keseluruhan.
Dugaan Penyebab: Pembiaran atau Pencemaran?
Kasus ini memunculkan sejumlah pertanyaan. I Nyoman secara terbuka mendesak pihak Pelindo untuk memberikan penjelasan atas kematian mangrove tersebut.
“Kami menuntut pihak Pelindo menjelaskan kenapa mangrove itu mati. Kenapa tidak ada penjelasan dan tidak ada upaya apa pun. Ini pembiaran,” tegasnya.
Ia bahkan mengingatkan bahwa pembiaran terhadap kerusakan lingkungan dapat masuk kategori pidana sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Di sisi lain, berkembang pula dugaan adanya kebocoran pipa milik Pertamina di sekitar kawasan tersebut. Meski belum ada bukti resmi, isu ini memicu kekhawatiran warga pesisir dan nelayan.
“Kemudian pertanyaannya, apa benar mangrove mati karena ada pipa Pertamina yang bocor?” ujar I Nyoman.
Hingga kini, belum ada keterangan teknis resmi yang memastikan penyebab utama kematian ratusan mangrove tersebut.
Uji Forensik Lingkungan
Untuk menghindari spekulasi, I Nyoman menyatakan akan meminta bantuan pihak kampus yang memiliki laboratorium forensik lingkungan. Pengujian direncanakan mencakup sampel air, tanah, serta jaringan pohon guna mengetahui kemungkinan adanya kandungan zat berbahaya.
“Kami akan minta tolong pihak kampus yang paham laboratorium forensik—air, tanah, pohon—untuk mendapatkan kejelasan apa yang menjadi penyebab kematian ratusan mangrove itu,” katanya.
Langkah ini dinilai penting agar penyebabnya dapat dibuktikan secara ilmiah, apakah karena perubahan kualitas air, pencemaran bahan kimia, gangguan aliran pasang surut, atau faktor lain seperti sedimentasi dan perubahan ekosistem akibat aktivitas industri.
Dampak Sosial dan Ekologis
Kematian mangrove tidak hanya berdampak pada benteng alami penahan abrasi dan intrusi air laut, tetapi juga mengancam mata pencaharian nelayan. Mangrove merupakan tempat pemijahan dan pembesaran berbagai jenis ikan, kepiting, dan udang.
Jika tidak segera diungkap penyebabnya dan dilakukan langkah pemulihan, kawasan Bonoa berpotensi mengalami kerusakan ekosistem jangka panjang. Investigasi menyeluruh dan transparan kini menjadi tuntutan utama, bukan hanya untuk menegakkan hukum, tetapi juga untuk memastikan perlindungan lingkungan pesisir Bali tetap terjaga.
Kasus ini menjadi ujian nyata komitmen semua pihak—pemerintah, korporasi, dan masyarakat—dalam menjaga ekosistem yang selama ini menjadi penyangga kehidupan di pesisir Pulau Dewata.






