JAKARTA – Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia, Bambang Soesatyo, mendorong industri cerutu Indonesia mampu menembus pasar dunia yang selama ini didominasi sejumlah negara, seperti Kuba, Dominika dan Nikaragua.
Di tengah nilai pasar cerutu dunia yang mencapai puluhan miliar dolar AS, Indonesia sesungguhnya memiliki fondasi kuat melalui kualitas tembakau kelas dunia. Namun hingga kini, posisi Indonesia masih tertinggal dalam hal branding, distribusi, dan penguasaan pasar premium dunia.
“Indonesia punya semua prasyarat untuk menjadi pemain utama cerutu dunia, mulai dari kualitas tembakau hingga tenaga kerja terampil. Tetapi kita masih tertinggal dalam membangun brand dan positioning di tingkat pasar dunia,” ujar Bamsoet saat menghadiri Halal Bihalal Omah Cerutu Nusantara di UNCLE Z Kopi Tiam Senopati Jakarta, Minggu Malam (12/4/26).
Hadir antara lain Menko bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Anggota BPK RI Bobby Rizaldi, Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono, Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutarjo, Gubernur Sumatera Selatan, Gubernur Lampung, Gubernur Bangka Belitung, Gubernur Jambi, Bupati Blora Arief Rohman, Pendiri Omah Cerutu Nusantara (OCN) adalah Helmy Faishal Zaini, Andi Rahmat, Pemilik BIN Cigar Febrian Ananta Kahar, Presiden Bamsoet Cigar Perikhsa Charles Wicaksana, Pemilik JT Royale Jeremy Thomas, musisi Lilo KLA dan Katon Bagaskara.
Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini memaparkan, secara global persaingan industri cerutu masih dikuasai negara-negara dengan reputasi kuat. Data menunjukkan permintaan cerutu dunia terus meningkat dengan nilai mencapai sekitar 58 miliar dolar AS pada 2025, sementara Indonesia masih menghadapi fluktuasi ekspor dan bahkan mengalami penurunan pada periode tertentu. Di sisi lain, negara pesaing seperti Belgia, Jerman, dan Spanyol terus memperkuat posisi mereka di pasar global. Kondisi ini menggambarkan bahwa persaingan cerutu dunia bukan hanya soal kualitas produk, melainkan juga strategi pasar dan kekuatan merek.
“Meskipun ekspor tembakau Indonesia terus tumbuh dengan rata-rata kenaikan sekitar 4,8 persen per tahun, posisi Indonesia dalam pasar dunia masih tertinggal. Indonesia baru berada di kisaran peringkat menengah sebagai eksportir tembakau dunia, sementara negara lain telah melompat jauh dengan mengembangkan industri hilir berbasis brand premium,” kata Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menjelaskan, industri cerutu nasional sebenarnya bukan pemain baru. Kabupaten Jember, misalnya, telah dikenal sejak era kolonial sebagai pusat tembakau cerutu berkualitas tinggi dan hingga kini tetap menjadi tulang punggung produksi nasional. Produk cerutu dari daerah ini telah menembus pasar Eropa, Asia, hingga Amerika, sekaligus menjadi bagian dari identitas ekonomi dan budaya daerah.
Data menunjukkan, ekspor tembakau Jember pada 2023 mencapai lebih dari 3 juta kilogram dengan nilai devisa sekitar USD 31,9 juta. Di sisi lain, sejumlah produsen cerutu mulai menembus pasar global dengan merek sendiri, seperti ekspor ke Malaysia dan Thailand yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
“Ini bukti bahwa cerutu Indonesia sudah mulai diterima pasar internasional. Tinggal bagaimana kita meningkatkan skala, konsistensi kualitas, dan memperkuat narasi sebagai produk premium,” urai Bamsoet.
Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Alumni Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjajaran ini menambahkan, di dalam negeri sendiri, sejumlah merek cerutu telah berkembang. Mulai dari BIN Cigar di Jember yang agresif menembus pasar ekspor, Taru Martani di Yogyakarta yang membawa warisan sejarah panjang, hingga berbagai produsen lain termasuk Djarum Cigarillos, Bamsoet Cigar dan pelaku UMKM yang terus bertumbuh. Bahkan, dalam ekosistem nasional terdapat ratusan varian merek cerutu yang diproduksi, mencerminkan potensi besar industri ini jika dikelola secara terintegrasi.
Kekuatan utama Indonesia sendiri terletak pada tembakau lokal seperti Besuki Na-Oogst yang dikenal sebagai salah satu bahan wrapper terbaik dunia. Didukung kondisi tanah vulkanik dan iklim tropis, Indonesia memiliki karakter rasa yang unik dan berpotensi menjadi diferensiasi di pasar dunia.
“Saat ini pasar cerutu dalam negeri masih relatif kecil, hanya sekitar 20–30 persen dari total produksi atau sekitar 1–2 juta batang per tahun. Artinya masa depan industri cerutu Indonesia memang ada di pasar internasional. Karena itu strategi ekspor harus menjadi prioritas utama, termasuk dukungan diplomasi ekonomi dan promosi,” pungkas Bamsoet. (Dwi)






