PALU – Peringatan Haul ke-58 Al-Habib Idrus bin Salim Al-Jufri di kompleks Alkhairaat Pusat, Palu, Rabu (1/4/2026), kembali menyedot perhatian nasional. Di balik suasana religius yang khidmat, sejumlah aspek menarik mencuat—mulai dari skala mobilisasi jamaah hingga dampak ekonomi dan tata kelola kegiatan berskala besar.
Ratusan ribu jamaah memadati kawasan acara sejak dini hari. Berdasarkan penelusuran di lapangan, arus kedatangan tidak hanya berasal dari wilayah Sulawesi, tetapi juga dari Kalimantan, Jawa, hingga Nusa Tenggara. Hal ini menunjukkan jaringan sosial-keagamaan Alkhairaat yang sangat luas dan terorganisir.
Namun, besarnya jumlah massa juga menghadirkan tantangan tersendiri. Kepadatan di sejumlah titik akses menuju lokasi sempat menimbulkan kemacetan panjang. Sejumlah warga setempat mengeluhkan terbatasnya rekayasa lalu lintas dan minimnya titik parkir terpusat.
Di sisi lain, kehadiran tokoh nasional seperti Aboe Bakar Alhabsyi menambah dimensi politik dalam acara keagamaan ini. Meski kehadiran tersebut diklaim sebagai bentuk penghormatan terhadap ulama besar, pengamat menilai perlu ada batas tegas antara kegiatan religius dan potensi pemanfaatan panggung publik oleh figur politik.
“Event sebesar ini sangat strategis secara sosial. Karena itu, penting memastikan tidak terjadi politisasi yang dapat mengaburkan tujuan utama kegiatan,” ujar seorang analis kebijakan publik yang enggan disebutkan namanya.
Dari sisi ekonomi, haul terbukti memberikan efek signifikan bagi masyarakat lokal. Pedagang kaki lima, penyedia jasa transportasi, hingga sektor perhotelan mengalami lonjakan aktivitas. Tarif penginapan di beberapa titik bahkan dilaporkan meningkat drastis selama periode acara.
Meski demikian, belum terlihat adanya sistem pengelolaan ekonomi yang terintegrasi. Sebagian pelaku usaha mengaku belum mendapat pembinaan atau arahan resmi terkait pengaturan harga dan distribusi lokasi usaha.
Selain itu, aspek kebersihan dan pengelolaan sampah juga menjadi sorotan. Volume sampah meningkat tajam pasca acara, sementara sistem penanganannya dinilai belum optimal di beberapa area.
Di tengah berbagai catatan tersebut, nilai utama haul sebagai momentum spiritual tetap dirasakan kuat oleh jamaah. Banyak di antara mereka yang datang bukan sekadar mengikuti tradisi, tetapi juga memperdalam nilai-nilai dakwah yang diwariskan Guru Tua—yakni Islam yang damai, inklusif, dan mencintai tanah air.
Kegiatan ini memperlihatkan bahwa haul bukan hanya peristiwa keagamaan, melainkan fenomena sosial besar yang melibatkan berbagai dimensi: spiritual, budaya, ekonomi, hingga tata kelola publik.
Ke depan, sejumlah pihak mendorong agar pelaksanaan haul dapat dilengkapi dengan sistem manajemen yang lebih terpadu—tanpa mengurangi esensi religiusnya—agar manfaatnya semakin luas dan dampak negatifnya dapat diminimalisir.






