Gunung Padang dan Rahasia Kejayaan Nusantara: Pusat Peradaban Dunia, Ekonomi, dan Teknologi Purba

NUSANTARA ~ Gunung Padang kembali mengguncang kesadaran global, bukan sekadar sebagai situs megalitikum purba, melainkan sebagai simpul peradaban, ekonomi, dan kearifan Nusantara yang berpotensi mengubah arah pembacaan sejarah dunia. Terletak di Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Gunung Padang kini berdiri sebagai saksi bisu kejayaan leluhur yang menyatukan ilmu pengetahuan, tata kelola sumber daya, dan harmoni kosmis jauh sebelum konsep peradaban modern dikenal.

Struktur batuan Gunung Padang yang tersusun rapi, memanjang dengan penampang segi lima, dan berorientasi presisi timur–barat serta utara–selatan, menantang kaidah geologi alamiah. Formasi ini tidak sejalan dengan pembentukan columnar joint alami, melainkan mengisyaratkan rekayasa teknologi yang menunjukkan adanya pengetahuan arsitektur dan tata ruang tingkat tinggi pada masa prasejarah Nusantara.

Temuan ini diperkuat oleh riset geofisika pada 2013 yang mengindikasikan keberadaan struktur bawah tanah non-alamiah. Analisis geolistrik dan ground penetrating radar memperlihatkan lapisan yang diduga hasil konstruksi manusia. Lebih mencengangkan, hasil uji Laboratorium Beta Analytic, Miami, memperkirakan usia lapisan Gunung Padang mencapai ±14.000 tahun, menjadikannya jauh lebih tua dari piramida Mesir dan menempatkan Nusantara dalam poros awal peradaban dunia.

Ekskavasi arkeologi yang dipimpin Dr. Ali Akbar bersama tim Universitas Indonesia menemukan artefak logam berkarat, struktur sambungan batu, serta material pasir dengan komposisi kimia yang sulit dijelaskan secara alami. Analisis lintas disiplin—geologi, petrografi, metalurgi—menguatkan dugaan bahwa Gunung Padang bukan sekadar situs ritual, melainkan pusat aktivitas teknologi dan produksi pada masanya.

Salah satu temuan paling simbolik adalah artefak batu menyerupai senjata yang dijuluki sementara sebagai “Kujang Gunung Padang”. Artefak ini memiliki bilah bifasial, geometri kompleks, serta kandungan unsur metal yang merata. Pola segitiga dan kurva heliks di dalamnya mencerminkan pemahaman matematis dan rekayasa presisi, menandakan bahwa leluhur Nusantara telah mengenal konsep teknologi maju ribuan tahun silam.Dalam perspektif ekonomi peradaban, Gunung Padang tidak berdiri sendiri.

Ketua Harian Rumah Hebat Nusantara, Moh Cahyadi, menegaskan bahwa kawasan ini merupakan pusat perekonomian dunia purba, ditandai dengan keberadaan perkebunan kopi varietas unggul Nusantara di sekitarnya serta tambang emas tradisional dalam radius kurang lebih 10 kilometer.
“Gunung Padang adalah episentrum peradaban sekaligus ekonomi. Leluhur Nusantara tidak hanya membangun dengan batu, tetapi dengan sistem nilai, produksi, dan keberlanjutan,” tegas Moh Cahyadi (yang akrab disapa Den Cupank).

Pernyataan tersebut diamini oleh Bendahara Umum Rumah Hebat Nusantara, Dewi Hapsari Kusumawardhani, S.T. Ia menilai bahwa integrasi antara situs peradaban, pertanian kopi unggul, dan tambang emas tradisional mencerminkan manajemen sumber daya berbasis kearifan lokal.
“Ini adalah model ekonomi berkelanjutan Nusantara: memuliakan alam, mengelola hasil bumi, dan menjaga keseimbangan spiritual serta sosial,” ujarnya, Kamis (1/1/2026).

Secara yuridis, keberadaan Gunung Padang dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, Pasal 32 UUD 1945 tentang pemajuan kebudayaan nasional, serta nilai-nilai hukum adat Nusantara yang menempatkan alam sebagai titipan leluhur, bukan objek eksploitasi. Prinsip ini sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945, bahwa bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Gunung Padang dengan demikian bukan hanya ruang kajian arkeologi, melainkan ruang refleksi peradaban—tempat masa lalu, masa kini, dan masa depan Nusantara saling berjumpa. Ia mengajarkan bahwa kemajuan sejati tidak lahir dari penaklukan alam, melainkan dari keselarasan pengetahuan, ekonomi, dan etika.

Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah Gunung Padang akan mengubah peta sejarah dunia, melainkan apakah dunia siap mengakui Nusantara sebagai salah satu rahim awal peradaban manusia. Gunung Padang belum selesai berbicara—dan barangkali, manusialah yang selama ini belum cukup hening untuk mendengarkannya.

(CP/red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *