ENVY & MALICE: Dendam yang Dipoles Logika, Iri yang Dibungkus Dalil

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin, Makassar

Ada manusia yang lisannya tampak tenang, tetapi batinnya penuh gelombang. Ia berbicara seolah membawa kebenaran, namun di balik itu tersimpan hasrat untuk diakui, keinginan untuk menang, dan dorongan halus untuk menjatuhkan. Ia cepat menilai, mudah menuduh, dan gemar berpolemik, bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk menegaskan eksistensinya.

Bacaan Lainnya

Ada pula yang tidak tahan melihat orang lain naik, gelisah ketika orang lain dipuji, dan resah ketika dirinya tak menjadi pusat perhatian. Maka ia menyerang, melemahkan, bahkan membuka aib, seakan-akan dengan itu ia menjadi lebih tinggi. Padahal, tanpa ia sadari, ia sedang menurunkan martabat dirinya sendiri.

Inilah wajah tersembunyi dari apa yang disebut *envy and malice* yaitu iri dan kebencian. Ia bukan sekadar emosi, tetapi penyakit batin yang merusak cara berpikir, cara berbicara, dan cara memperlakukan sesama.

Secara sederhana, envy (ḥasad) adalah perasaan tidak senang melihat orang lain mendapatkan nikmat, bahkan berharap nikmat itu hilang darinya. Sedangkan malice (ḥiqd/baghda’) adalah kebencian yang menetap, yang mendorong seseorang untuk menyakiti, merendahkan, atau menjatuhkan.

Ketika dua hal ini bersatu, lahirlah karakter yang toksik, agresif dalam kata, keras dalam sikap, dan sempit dalam cara pandang. Ia tidak lagi melihat manusia sebagai saudara, tetapi sebagai pesaing. Tidak lagi melihat perbedaan sebagai rahmat, tetapi sebagai ancaman.

Allah SWT. mengingatkan dengan sangat dalam:
أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ
“Ataukah mereka dengki kepada manusia atas karunia yang Allah berikan kepadanya?” (QS. An-Nisa: 54)

Ayat ini menyingkap hakikat iri, bahwa ia bukan sekadar persoalan sosial, tetapi bentuk ketidakridhaan terhadap takdir Allah. Seakan-akan seseorang berkata dalam diam: “Mengapa bukan aku?”

Rasulullah SAW. bersabda:
لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
“Janganlah kalian saling iri, saling membenci, saling membelakangi, tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun realitas hari ini justru sebaliknya. Kita hidup di tengah masyarakat yang mudah tersulut, cepat bereaksi, dan gemar memperuncing perbedaan. Media sosial menjadi panggung di mana ego dipertontonkan, aib diumbar, dan konflik dipelihara.

Orang tidak lagi malu untuk menyerang, tidak lagi ragu untuk menjatuhkan, bahkan merasa bangga ketika mampu mempermalukan orang lain di hadapan publik.

Padahal Allah telah mengingatkan dengan ayat yang jarang direnungi:
وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم
“Banyak dari Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu menjadi kafir setelah kamu beriman, karena dengki yang timbul dari diri mereka sendiri…” (QS. Al-Baqarah: 109)

Dengki bukan sekadar perasaan, tetapi bisa menjadi energi destruktif yang mendorong seseorang melakukan tindakan ekstrem.

Lebih dalam lagi, iri dan kebencian adalah racun yang pertama kali merusak hati sebelum melukai orang lain. Ia menggerogoti ketenangan, merampas kebahagiaan, dan menjadikan seseorang hidup dalam kegelisahan yang tak berujung.

Ibnu Mas’ud RA.berkata:
لَا تَجْعَلُوا الْحَسَدَ فِي قُلُوبِكُمْ فَإِنَّهُ يُنْبِتُ الشَّرَّ كَمَا يُنْبِتُ الْمَاءُ الْبَقْلَ
“Janganlah kalian menanam iri dalam hati kalian, karena ia menumbuhkan kejahatan sebagaimana air menumbuhkan tanaman.”

Hasan al-Bashri juga berkata:
يَا ابْنَ آدَمَ، لِمَ تَحْسُدُ أَخَاكَ؟ فَإِنْ كَانَ اللَّهُ قَسَمَهَا لَهُ، فَأَنْتَ تُعَادِي اللَّهَ
“Wahai anak Adam, mengapa engkau iri kepada saudaramu? Jika itu adalah pemberian Allah kepadanya, maka engkau sedang memusuhi Allah.”

Betapa tajam peringatan ini,bahwa iri bukan sekadar dosa sosial, tetapi bentuk pembangkangan halus terhadap kehendak Ilahi.

Dalam konteks moral, fenomena ini menunjukkan adanya kemerosotan karakter. Nilai-nilai kejujuran tergeser oleh ambisi, ketulusan digantikan oleh pencitraan, dan ukhuwah digantikan oleh kompetisi yang tidak sehat. Manusia lebih sibuk mencari pengakuan daripada memperbaiki diri. Lebih senang menang dalam perdebatan daripada menang dalam keikhlasan.

Padahal Allah memberikan jalan keluar yang begitu indah:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah pemaaf, perintahkan yang baik, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A‘raf: 199)

Ini bukan kelemahan, tetapi kekuatan. Bukan kekalahan, tetapi kematangan jiwa. Maka pemulihan harus dimulai dari dalam. Dari keberanian untuk membersihkan hati, dari kesadaran untuk mengendalikan ego, dan dari ketulusan untuk kembali kepada nilai-nilai Ilahiyah.

Allah berfirman:
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ • إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Pada hari ketika harta dan anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu‘ara: 88–89)

Hati yang bersih adalah kunci. Ia melahirkan kasih, menumbuhkan empati, dan menghadirkan kedamaian.

Ibn Qayyim berkata:
فِي الْقَلْبِ شَعَثٌ لَا يَلُمُّهُ إِلَّا الْإِقْبَالُ عَلَى اللَّهِ
“Di dalam hati ada kekacauan yang tidak bisa dirapikan kecuali dengan kembali kepada Allah.

Pada akhirnya, dunia ini tidak membutuhkan lebih banyak orang yang pandai menyerang, tetapi membutuhkan lebih banyak hati yang mampu memahami. Tidak membutuhkan lebih banyak kritik yang tajam, tetapi membutuhkan lebih banyak jiwa yang tulus.

Karena persaudaraan tidak dibangun di atas iri, dan kedamaian tidak tumbuh dari kebencian.Ia lahir dari hati yang bersih, dari jiwa yang tenang, dan dari kesadaran bahwa setiap manusia adalah bagian dari kita, bukan lawan yang harus dijatuhkan,melainkan saudara yang harus dirangkul.

Di situlah cinta menemukan maknanya,ukhuwah menemukan kekuatannya,dan manusia kembali kepada fitrahnya menjadi pembawa rahmat,bukan penyebar luka.

#Wallahu A’lam Bish-Shawab🙏

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *