Di Balik Ucapan Nyepi Demer, Ada Pesan Politik Sunyi tentang Arah Bali

DENPASAR – Ucapan Hari Raya Nyepi yang disampaikan Ketua DPD I Partai Golkar Bali sekaligus Anggota DPR RI Gde Sumarjaya Linggih atau Demer, tidak sekadar menjadi pesan seremonial keagamaan. Di balik narasi keheningan yang disampaikan, tersirat pesan lebih dalam mengenai arah kehidupan sosial, budaya, hingga kepemimpinan di Bali.

Dalam pernyataannya seperti dikutip dari media sosial miliknya, Demer menekankan makna Nyepi sebagai ruang refleksi batin yang menghadirkan ketenangan, kejernihan pikiran, dan harmoni antara manusia, alam, serta Sang Pencipta. Namun, jika ditelusuri lebih jauh, pesan tersebut muncul di tengah dinamika Bali yang terus bergerak di antara modernisasi dan tekanan pariwisata massal.

“Hari Raya Nyepi mengajarkan kita arti keheningan. Dalam diam, kita belajar mendengar suara hati. Dalam sunyi, kita menemukan keseimbangan,” ujar Demer dalam pernyataan resminya, Rabu (18/3/2026).

Pesan ini, menurut sejumlah pengamat, tidak bisa dilepaskan dari konteks Bali saat ini yang menghadapi tantangan kompleks: mulai dari alih fungsi lahan, tekanan ekonomi berbasis pariwisata, hingga perubahan perilaku sosial masyarakat.

Dalam pendekatan investigatif, ucapan tersebut dapat dibaca sebagai bentuk pengingat—bahwa di tengah hiruk-pikuk pembangunan dan kepentingan ekonomi, Bali membutuhkan “ruang hening” untuk mengevaluasi arah kebijakannya.

Demer juga menyinggung pentingnya harmoni, yang dalam filosofi Bali dikenal melalui konsep Tri Hita Karana. Konsep ini menekankan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Namun dalam praktiknya, keseimbangan tersebut kerap diuji oleh realitas pembangunan yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai lokal.

“Semoga momentum suci ini membawa ketenangan, kejernihan pikiran, serta memperkuat harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta,” lanjutnya.

Jika ditarik lebih dalam, pernyataan ini bisa dimaknai sebagai kritik halus terhadap kondisi Bali yang mulai kehilangan keseimbangan, terutama dalam relasi manusia dengan lingkungan. Isu sampah, kemacetan, hingga eksploitasi ruang menjadi problem nyata yang terus disorot publik.

Sebagai anggota DPR RI, posisi Demer tidak hanya sebagai tokoh politik, tetapi juga representasi suara Bali di tingkat nasional. Karena itu, setiap pernyataannya—termasuk ucapan hari raya—memiliki dimensi yang lebih luas dari sekadar pesan religius.

Dalam konteks ini, Nyepi menjadi simbol kuat: satu-satunya hari di mana Bali benar-benar berhenti. Tidak ada aktivitas, tidak ada kebisingan, bahkan bandara pun tutup. Sebuah praktik yang justru berbanding terbalik dengan ritme kehidupan modern yang terus bergerak tanpa jeda.

Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa nilai keheningan Nyepi mulai menghadapi tantangan generasi muda yang hidup dalam era digital. Namun di sisi lain, justru muncul kesadaran baru untuk kembali memaknai tradisi sebagai identitas.

Di akhir pernyataannya, Demer menutup dengan doa universal yang menegaskan pesan damai bagi semua.

“Selamat Hari Raya Nyepi bagi seluruh umat Hindu yang merayakan. Semoga kita semua senantiasa dilimpahi kedamaian. Om Shanti Shanti Shanti Om.”

Ucapan yang sederhana, namun jika dibaca dalam konteks yang lebih luas, menjadi refleksi atas kebutuhan Bali untuk kembali menata keseimbangan—antara tradisi dan modernitas, antara ekonomi dan spiritualitas, serta antara pembangunan dan kelestarian.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *