Di Balik Rivalitas Tradisi dan Kontemporer, I Nyoman Parta Soroti “Dapur” Kreatif Ogoh-Ogoh Bali

GIANYAR – Anggota DPR RI dari Fraksi PDIP Dapil Bali I Nyoman Parta mengungkap sisi lain proses kreatif pembuatan ogoh-ogoh yang jarang tersorot publik. Dalam kunjungan lapangannya ke sejumlah sanggar di kawasan Ubud, Parta menemukan realitas kerja keras para seniman yang bekerja hingga dini hari demi merampungkan karya jelang Hari Raya Nyepi.

Kunjungan yang dilakukan tanpa seremoni itu memperlihatkan kontras antara persepsi publik dan kondisi di lapangan. Dua nama seniman yang kerap “dihadapkan” oleh penggemar—Marmar dan Kedux—justru menunjukkan kesamaan mendasar: totalitas tanpa kompromi.

“Mereka sering dibanding-bandingkan. Marmar dianggap setia pada tradisi, sementara Kedux dinilai lebih kontemporer dan adaptif terhadap teknologi. Tapi ketika saya turun langsung, yang terlihat justru semangat yang sama: bekerja tanpa lelah,” kata Parta seperti dikutip dari media sosial miliknya, Rabu (18/3/2026).

Ia mengaku tiba di lokasi saat waktu sudah mendekati subuh. Namun aktivitas di “dapur” pembuatan ogoh-ogoh masih berlangsung intens, dengan para pemuda dan seniman terus menyelesaikan detail karya mereka.

“Ini yang jarang dilihat. Orang hanya menikmati hasil akhir di malam pawai. Padahal di balik itu ada kerja kolektif, begadang, bahkan pengorbanan tenaga dan waktu,” ungkapnya.

Dalam penelusurannya, Parta juga menyoroti adanya pergeseran pendekatan dalam berkesenian. Di satu sisi, terdapat kelompok yang tetap menjaga pakem tradisi secara ketat. Di sisi lain, muncul gelombang baru yang memadukan seni ogoh-ogoh dengan teknologi, pencahayaan modern, hingga efek visual.

Namun, ia menegaskan bahwa perbedaan tersebut tidak seharusnya dipertentangkan.

“Perdebatan tradisi versus kontemporer itu sebenarnya hanya di permukaan. Intinya sama, yaitu menjaga budaya Bali tetap hidup. Ini bukan soal siapa lebih benar, tapi bagaimana keduanya berkontribusi,” tegasnya.

Lebih jauh, Parta menilai ogoh-ogoh memiliki dimensi yang jauh melampaui aspek visual. Ia menyebut karya tersebut sebagai medium ekspresi spiritual dan sosial masyarakat Bali.

“Ogoh-ogoh itu bukan sekadar patung atau tontonan. Ia membawa pesan spiritual yang dalam. Ini adalah simbol bahwa kebudayaan Bali tidak hadir tiba-tiba, tetapi lahir dari cipta, rasa, dan karsa masyarakat secara kolektif,” jelasnya.

Dalam perspektif investigatifnya, Parta juga mengingatkan pentingnya dukungan berkelanjutan, baik dari pemerintah maupun masyarakat, agar para seniman tidak hanya diapresiasi saat momentum festival, tetapi juga dalam proses panjang yang mereka jalani.

“Kalau kita ingin menjaga marwah Bali, maka yang harus dijaga bukan hanya panggungnya, tapi juga proses di belakang layar,” katanya.

Di akhir kunjungannya, Parta memberikan apresiasi kepada Marmar dan Kedux yang dinilainya menjadi representasi dua arus besar dalam seni Bali saat ini.

“Dua jempol untuk keduanya. Bali beruntung memiliki seniman seperti mereka. Semoga tetap sehat dan terus berkarya,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *