BULELENG – Anggota DPR RI Dapil Bali dari Fraksi Partai Golkar Gde Sumarjaya Linggih (Demer) menegaskan bahwa budaya bukan sekadar identitas, tetapi juga fondasi utama dalam arah pembangunan Bali ke depan. Hal itu disampaikannya saat menghadiri rangkaian Upacara Ngeeb di Pura Bale Agung Tajun.
Kehadiran politisi yang akrab disapa Demer ini mencerminkan konsistensinya dalam mengawal isu pelestarian budaya Bali, tidak hanya pada tataran wacana, tetapi juga melalui keterlibatan langsung di tengah masyarakat adat.
Ngeeb: Ritual Sakral dengan Dimensi Sosial dan Ekologis
Upacara Ngeeb yang digelar di Pura Bale Agung Tajun bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan ekologis yang kuat. Dalam tradisi Bali, Pura Bale Agung menjadi pusat pemujaan sekaligus simbol persatuan desa adat.
Melalui Ngeeb, masyarakat diajak untuk melakukan penyucian diri dan lingkungan, sekaligus memperkuat hubungan kolektif antarwarga. Nilai ini sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana, yang menekankan keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Demer: Budaya Harus Jadi Arus Utama Kebijakan
Dalam pandangannya, Gde Sumarjaya Linggih menilai bahwa pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada seremoni, tetapi harus masuk dalam kebijakan strategis pembangunan.
“Budaya Bali itu bukan hanya warisan, tetapi kekuatan. Kalau kita tempatkan budaya sebagai arus utama, maka pembangunan tidak akan merusak, justru memperkuat jati diri,” ujar Demer.
Ia menekankan bahwa upacara seperti Ngeeb adalah bentuk nyata bagaimana masyarakat Bali menjaga keseimbangan hidup secara berkelanjutan—sebuah konsep yang menurutnya relevan dengan tantangan global saat ini, termasuk isu lingkungan dan krisis identitas budaya.
Menjaga Keseimbangan di Tengah Tekanan Modernisasi
Demer juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi Bali di tengah pesatnya perkembangan pariwisata dan modernisasi. Ia mengingatkan bahwa tanpa fondasi budaya yang kuat, Bali berisiko kehilangan karakter aslinya.
“Modernisasi tidak bisa dihindari, tetapi harus dikendalikan. Kuncinya ada pada budaya. Upacara seperti Ngeeb ini adalah pengingat bahwa kita punya sistem nilai yang sudah terbukti menjaga keseimbangan,” tegasnya.
Menurutnya, desa adat memiliki peran strategis sebagai benteng terakhir pelestarian budaya, sehingga perlu didukung secara serius, baik dari sisi regulasi maupun anggaran.
Spirit Dharma sebagai Landasan Kepemimpinan
Dalam refleksi pribadinya, Demer mengaitkan nilai-nilai dalam Upacara Ngeeb dengan prinsip kepemimpinan yang ia jalankan sebagai wakil rakyat.
“Dharma itu bukan hanya ajaran, tapi pedoman hidup. Dalam menjalankan tugas sebagai anggota DPR, saya berusaha tetap berpijak pada nilai itu—jujur, tulus, dan berpihak pada keseimbangan,” ungkapnya.
Ia menilai, ketulusan dan kesadaran spiritual yang tercermin dalam ritual adat Bali dapat menjadi inspirasi dalam membangun tata kelola pemerintahan yang berintegritas.
Komitmen Nyata Pelestarian Budaya
Kehadiran Gde Sumarjaya Linggih di Pura Bale Agung Tajun sekaligus mempertegas komitmennya untuk terus mendukung pelestarian budaya Bali sebagai bagian dari identitas nasional.
Ia mendorong agar generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku aktif dalam menjaga tradisi.
“Budaya tidak akan hidup kalau hanya dikenang. Ia harus dijalankan, dirawat, dan diwariskan. Itu tanggung jawab kita bersama,” tutup Demer.
Dengan semangat #BudayaBali #UpacaraNgeeb #GSL #PuraBaleAgungTajun #PelestarianBudaya, Demer mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan budaya sebagai kekuatan utama dalam menjaga harmoni Bali di tengah perubahan zaman.






