JAKARTA – Kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi Pakistan tak hanya dipandang sebagai langkah meredakan konflik, tetapi juga membuka sejumlah implikasi strategis yang lebih luas, termasuk terhadap stabilitas energi global dan jalur perdagangan internasional.
Hal itu disampaikan Wakil Ketua Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Dave Laksono. Dave menilai perkembangan ini perlu dikawal secara serius karena berkaitan langsung dengan kepentingan geopolitik dan ekonomi Indonesia.
Dave menegaskan bahwa pendekatan diplomasi harus terus menjadi prioritas dalam menyelesaikan konflik bersenjata di kawasan sensitif seperti Timur Tengah.
“Komisi I DPR RI menyambut baik kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi oleh Pakistan. Langkah ini menunjukkan bahwa diplomasi masih menjadi instrumen utama dalam meredakan konflik, sekaligus memberikan harapan bagi stabilitas kawasan Timur Tengah,” kata Dave dalam keterangannya diterima wartawan, Kamis (9/4/2026).
Jalur Energi dan Kepentingan Indonesia
Secara investigatif, meredanya ketegangan di kawasan Timur Tengah berpotensi langsung memengaruhi harga minyak dunia yang selama ini sangat sensitif terhadap eskalasi konflik. Kawasan Teluk Persia dikenal sebagai salah satu pusat distribusi energi global, dengan jalur strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi titik vital pengiriman minyak dunia.
Penurunan tensi konflik antara AS dan Iran berkontribusi pada penurunan harga minyak dalam jangka pendek, yang berdampak pada stabilitas fiskal negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia. Namun demikian, para analis menilai situasi ini masih rentan jika tidak diikuti dengan komitmen jangka panjang dari kedua pihak.
Menanggapi hal itu, Dave menegaskan pentingnya memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat kerja sama internasional di sektor energi dan perdagangan.
“Kesepakatan ini juga memberi dampak positif terhadap pasar energi global, dengan harga minyak turun secara signifikan. Stabilitas energi dunia tentu berpengaruh pada perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, kami melihat momentum ini sebagai peluang untuk memperkuat kerja sama internasional dalam menjaga jalur perdagangan dan pasokan energi yang aman,” kata Dave.
Diplomasi Lanjutan Jadi Kunci
Lebih jauh, DPR melihat bahwa gencatan senjata bukanlah akhir dari konflik, melainkan tahap awal menuju proses perdamaian yang lebih kompleks. Informasi yang berkembang menyebutkan bahwa perundingan lanjutan direncanakan berlangsung di Islamabad, dengan agenda utama membangun kesepakatan jangka panjang.
Dave menekankan bahwa keberhasilan tahap berikutnya sangat bergantung pada komitmen kedua negara dalam menghormati hukum internasional dan menahan diri dari provokasi militer.
“Indonesia percaya bahwa perundingan lanjutan di Islamabad harus dimanfaatkan untuk membangun fondasi perdamaian yang lebih kokoh,” ujarnya.
Peran Indonesia di Panggung Global
Dalam konteks yang lebih luas, DPR juga mendorong pemerintah Indonesia untuk memainkan peran aktif dalam diplomasi internasional. Posisi Indonesia sebagai negara non-blok dan pendukung perdamaian dunia dinilai strategis untuk menjadi jembatan dialog.
Selain itu, pendekatan berbasis kemanusiaan dinilai harus menjadi prioritas di tengah dinamika geopolitik yang kerap mengabaikan dampak terhadap masyarakat sipil.
“Kami optimis bahwa melalui komitmen bersama, gencatan senjata ini dapat menjadi pintu masuk menuju perjanjian damai yang lebih permanen. Indonesia siap berkontribusi dalam upaya internasional untuk memastikan bahwa perdamaian bukan hanya jeda sementara, melainkan sebuah keadaan yang berkelanjutan dan bermartabat bagi semua bangsa,” jelasnya.
Di tengah ketidakpastian global, DPR menilai konsistensi diplomasi dan penguatan kerja sama multilateral menjadi kunci untuk menjaga stabilitas kawasan sekaligus melindungi kepentingan nasional Indonesia.






