Dari Halaman Sekolah ke Krisis Air Bali: I Nyoman Parta Dorong Biopori Jadi Gerakan Kolektif

I Nyoman Parta

GIANYAR – Kunjungan Anggota DPR RI Dapil Bali dari Fraksi PDI Perjuangan I Nyoman Parta ke SMP Negeri 2 Sukawati bukan sekadar agenda sosialisasi lingkungan. Di hadapan siswa dan guru, ia mengubah isu biopori menjadi refleksi besar tentang arah pembangunan Bali yang dinilai semakin menjauh dari keseimbangan alam.

Alih-alih berbicara teknis semata, Parta mengajak peserta melihat persoalan air dari akar masalahnya: pola pembangunan yang menutup ruang resapan dan meningkatnya eksploitasi air tanah.

Ketika Paving Menggantikan Tanah Resapan

Dalam pemaparannya, Parta menyoroti perubahan wajah Bali yang semakin dipenuhi beton dan paving. Rumah, kantor, fasilitas umum hingga tempat ibadah kini minim ruang terbuka hijau.

“Kalau hujan tentu keluarnya ke jalan. Air yang jatuh di rumah lari ke jalan, tidak masuk ke tanah kita,” ujar I Nyoman seperti dikutip di akun Facebook miliknya, Rabu (25/2/2026).

Ia menilai fenomena banjir dan genangan di berbagai wilayah bukan semata karena curah hujan tinggi, melainkan akibat tertutupnya permukaan tanah yang sebelumnya berfungsi menyerap air.

Menurutnya, biopori memang tidak bisa mencegah banjir sepenuhnya, tetapi mampu mengurangi genangan sekaligus menyimpan air sebagai “tabungan” di dalam tanah.

Sumur Bor dan Ancaman bagi Mata Air Tradisional

Sudut pandang lain yang diangkat Parta adalah dampak penggunaan sumur bor secara masif. Ia mengingatkan, ketika cadangan air tanah tidak diisi kembali melalui resapan alami, muka air akan semakin turun.

“Kalau tabungan air tidak ada, sedangkan warga beralih ke sumur bor, maka posisi air akan makin jauh. Mata air seperti Kelebutan, Keciran, Pancoran akan terganggu,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menegaskan kekhawatiran bahwa eksploitasi air tanah tanpa konservasi dapat mengancam keberlanjutan sumber air tradisional yang selama ini menopang kehidupan masyarakat Bali.

Empat Danau, Simbol Kemurahan Alam Bali

Parta juga mengajak siswa memahami konteks lebih luas. Ia menyebut Bali sebagai pulau yang dianugerahi empat danau besar yang menjadi penyangga sistem air.

Keempat danau itu adalah:

1. Danau Batur

2. Danau Buyan

3. Danau Beratan

4. Danau Tamblingan

Ia menyebutnya sebagai “tanah air” Bali yang secara filosofi menunjukkan betapa kayanya pulau ini akan sumber daya air.

Namun di balik anugerah tersebut, ia mengingatkan adanya pendangkalan danau akibat sedimentasi, sampah, erosi pertanian, serta kerusakan hutan. Kondisi ini membuat daya tampung dan fungsi ekologis danau semakin menurun.

Biopori sebagai Perlawanan Kecil terhadap Krisis

Dalam sudut pandang yang lebih reflektif, Parta menyebut biopori bukan sekadar lubang di tanah, melainkan simbol perlawanan kecil terhadap krisis lingkungan.

“Semakin banyak, semakin bagus. Kita simpan air di bawah tanah. Stok air tidak butuh makan, tidak butuh listrik,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa lubang biopori dapat diisi sampah organik yang kemudian terurai menjadi humus. Dengan cara itu, selain menyerap air, biopori juga memperbaiki kualitas tanah.

Sekolah sebagai Titik Awal Perubahan

Pemilihan SMP Negeri 2 Sukawati sebagai lokasi kegiatan dinilai strategis. Sekolah dianggap sebagai ruang edukasi untuk menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini.

Parta mendorong siswa menjadi agen perubahan di rumah masing-masing.

“Ayooo buat biopori untuk tabung air hujan, biar tidak semua kembali ke laut,” ajaknya.

Kunjungan tersebut memperlihatkan bahwa isu lingkungan kini tidak lagi berhenti pada diskusi kebijakan di parlemen, tetapi dibawa langsung ke ruang-ruang pendidikan. Dari halaman sekolah di Sukawati, pesan tentang krisis air Bali digaungkan: menjaga air bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *