Bekasi Menyala! Pangdam Jaya Cup 2026 Teguhkan Pencak Silat sebagai Jati Diri Bangsa

BEKASI — Denting sejarah dan denyut kebudayaan Nusantara berjumpa dalam Kejuaraan Pencak Silat Pangdam Jaya Cup 2026 yang digelar di GOR Basket Stadion Candrabaga, Kota Bekasi, Jumat (9/1/2026). Ajang ini bukan sekadar kompetisi, melainkan ikrar kebangsaan untuk merawat warisan leluhur yang telah diakui dunia sebagai identitas Indonesia.

Kejuaraan yang digagas oleh Komando Daerah Militer Jaya (Kodam Jaya/Jayakarta) tersebut menjadi manifestasi nyata komitmen negara dalam melindungi dan mengembangkan kebudayaan nasional sebagaimana diamanatkan Pasal 32 UUD 1945 serta Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Pencak silat diposisikan bukan hanya sebagai olahraga, melainkan kekuatan karakter bangsa.

Ratusan pesilat dari berbagai perguruan, pelajar, mahasiswa, hingga atlet prestasi turut ambil bagian. Mereka datang membawa semangat sportivitas, disiplin, dan persaudaraan, nilai-nilai luhur yang sejalan dengan tujuan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional.

 

Ketua Pendekar Resque, Deni Djiung, menegaskan bahwa Pangdam Jaya Cup adalah ruang ideologis sekaligus kultural. “Pencak silat bukan sekadar teknik bela diri, tetapi jalan pembentukan manusia Indonesia yang berakhlak, berani, dan beradab. Ajang ini adalah napas perlawanan terhadap lunturnya jati diri bangsa,” ujarnya dengan penuh makna.

Senada dengan itu, Mardani, Ketua Gerakan Moral, menyatakan bahwa kejuaraan ini merupakan wujud sinergi moral antara negara dan rakyat. “Ketika TNI, masyarakat, dan pegiat budaya bersatu, maka pencak silat menjadi energi sosial yang menumbuhkan persatuan dan kesadaran kebangsaan,” tegasnya.

Kehadiran Abdul Haris Bobihoe, Wakil Wali Kota Bekasi, menegaskan dukungan pemerintah daerah terhadap pemajuan budaya dan olahraga tradisional. “Pemkot Bekasi berkomitmen mendukung kegiatan yang membangun karakter generasi muda serta menggerakkan ekonomi kreatif berbasis budaya, sejalan dengan visi pembangunan daerah,” tuturnya.

Ketua Pendekar Resque, Deni Djiung (pojok kiri) bersama Wakil Wali Kota Bekasi, Abdul Haris Bobihoe (empat dari kanan) di sela-sela kegiatan Kejuaraan Pencak Silat Pangdam Jaya Cup 2026, Jum’at (9/1/2026).

Kejuaraan Pangdam Jaya Cup dalam perjalanannya telah menjelma menjadi agenda kompetisi bergengsi, wadah penjaringan atlet potensial, sekaligus ruang silaturahmi antarperguruan. Ia menjadi simpul strategis yang mempertemukan TNI, IPSI, pemerintah daerah, dan masyarakat pencak silat dalam satu tujuan kebangsaan.

Dimensi ekonomi kerakyatan turut mendapat sorotan. Nur Alamsyah, Direktur Utama PT Gajayasa,(yang akrab disapa Mandor Alam) menegaskan pentingnya sinergitas lintas sektor. “Ke depan, Gajayasa akan bersinergi dengan para pelaku dan pelestari budaya untuk mengembangkan sumber daya manusia sekaligus perekonomian masyarakat, khususnya Kota Bekasi dan rakyat Nusantara pada umumnya,” ujarnya.

Mandor Alam yang juga mantan Sekretaris Jenderal Forum Silaturahmi Pelestari Pencak Silat Tradisi Gerakan Moral menilai pencak silat sebagai ekosistem budaya yang mampu menghidupkan banyak sektor. “Budaya bukan beban, melainkan modal sosial dan ekonomi bila dikelola secara profesional dan berkelanjutan,” katanya.

Sebagai langkah konkret, ia mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat Gajayasa Mahakarya Event Pro, unit Event Organizer di bawah PT Gajayasa, akan menghelat bazar UMKM serta pertunjukan musik, pameran pabrikasi golok sebagai senjata tradisional Bekasi, tari, dan pencak silat tradisi Nusantara di GOR Bekasi. Program ini dirancang untuk membuka ruang ekspresi budaya sekaligus perputaran ekonomi rakyat. Pungkasnya.

Kejuaraan Pangdam Jaya Cup pun berdiri sebagai bukti bahwa pemajuan kebudayaan dapat berjalan seiring dengan pembangunan ekonomi, sebagaimana ruh Pasal 33 UUD 1945 tentang ekonomi kerakyatan. Pencak silat menjadi simpul antara nilai, prestasi, dan kesejahteraan.

Dengan semangat “Bela Diri, Bela Bangsa”, Pangdam Jaya Cup 2026 menegaskan bahwa pencak silat adalah denyut jantung Indonesia, hidup dalam gerak pesilat, tumbuh dalam kesadaran kolektif, dan terus menyala sebagai obor peradaban Nusantara menuju masa depan yang berdaulat, berkeadilan, dan bermartabat.(

CP/red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *