JAKARTA – Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15, Bambang Soesatyo, menegaskan bahwa perubahan lanskap geopolitik global menuntut Indonesia untuk menempatkan Pancasila bukan sekadar sebagai dasar ideologi, tetapi sebagai pijakan strategis dalam merumuskan kebijakan nasional dan hubungan luar negeri.
Pernyataan tersebut disampaikan saat memberikan kuliah kepada mahasiswa Pascasarjana di Universitas Pertahanan, Rabu (1/4/2026). Dalam paparannya, ia menyoroti meningkatnya ketegangan global yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dan energi nasional.
Menurutnya, dunia kini bergerak menuju tatanan multipolar yang ditandai dengan konflik terbuka, rivalitas ekonomi, dan persaingan sumber daya. Situasi ini, kata dia, berimplikasi pada naik turunnya harga energi serta ketidakpastian ekonomi yang turut dirasakan Indonesia.
“Pancasila harus menjadi kompas dalam menentukan langkah strategis bangsa. Tidak cukup hanya sebagai nilai, tetapi harus hadir dalam kebijakan nyata,” ujar Bamsoet.
Tantangan Energi dan Ekonomi Global
Ia menjelaskan, ketergantungan Indonesia terhadap impor energi, khususnya dari kawasan Timur Tengah, membuat posisi nasional cukup rentan terhadap gejolak global. Ketegangan yang melibatkan negara-negara seperti Amerika Serikat, Israel, dan Iran menjadi salah satu faktor yang memengaruhi stabilitas harga minyak dunia.
Kondisi tersebut, lanjutnya, dapat berdampak pada fiskal negara jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang adaptif dan terukur.
Reinterpretasi Politik Luar Negeri
Bamsoet juga menekankan pentingnya penafsiran ulang prinsip politik luar negeri bebas aktif. Menurutnya, Indonesia tidak boleh hanya bersikap netral secara pasif, melainkan perlu aktif membangun posisi strategis yang mengedepankan kepentingan nasional.
“Indonesia harus mampu memainkan peran, bukan sekadar menjadi penonton dalam dinamika global,” katanya.
Dorong Kemandirian Ekonomi
Dalam menghadapi tekanan global, ia menilai penguatan ekonomi nasional menjadi kunci. Implementasi nilai keadilan sosial dalam Pancasila, menurutnya, harus diwujudkan melalui hilirisasi industri, penguatan teknologi, dan pengurangan ketergantungan terhadap komoditas mentah.
Ia juga mengingatkan bahwa perubahan pola perdagangan global dan meningkatnya proteksionisme menuntut Indonesia untuk memperkuat daya saing.
Peran Strategis Indonesia
Sebagai negara dengan ekonomi besar di kawasan dan anggota forum global, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk berperan sebagai penyeimbang dalam konflik internasional serta menjadi jembatan antara negara maju dan berkembang.
Namun demikian, Bamsoet menegaskan bahwa peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan jika Indonesia memiliki arah kebijakan yang konsisten dan berbasis pada nilai-nilai Pancasila.
“Pilihan kita jelas, menjadikan Pancasila sebagai strategi nyata atau hanya slogan. Itu yang akan menentukan posisi Indonesia di tengah dinamika global,” pungkasnya.






