Asumsi Wapres Kaum Muslimin Terbelakang, Tidak Benar!

Saya ditunjukkan oleh seorang teman tulisan seseorang yang merespon pernyataan Kyai Wapres yang menuding keterbelakangan umat Islam berasal dari umat Islam sendiri. Tulisan orang tersebut sepenuhnya seirama dengan esensi asumsi Kyai Wapres itu.

Dia malah membawa-bawa nama Rasyid Ridha dan Sakib Arselan. Karena Rasyid Ridha dan Sakib Arselan pernah menjawab pertanyaan itu pada abad 20 yang lalu, saat kolonialisme Barat merajalela di dunia Islam.

Bacaan Lainnya

Tulisan dia sama sekali belum mengurai apa ukuran kemajuan itu? Sebab bagaimana kita mencap yang satu pihak mundur dan terbelakang, dan yang lain dipandang maju, sementara paramaternya tidak jelas dan hanya asumsi.

Pertanyaannya, apakah Barat cerminan suatu kemajuan? Apakah yang disebut under development dan development seperti yang disinggung oleh Kyai Wapres itu?

Kalau bicara development, Indonesia telah malalui dan menerapkannya selama 30 tahun lebih di masa Orde Baru, lalu apakah kita sudah maju?

Padahal asumsi yang diterapkan dalam pola pembangunan bertahap sudah sepenuhnya mengimani ajaran Barat, secara khusus sesuai bimbingan dan arahan Rostow dan mafia Barkley. Tapi sudah maju belum Indonesia? Bikin hape sama motor saja sekarang mengimpornya ke China.

Kalau belum maju, apakah itu salah umat Islam? Apakah itu salah cara berpikir umat Islam? Lalu apakah yang dimaksud dengab cara pikir maju seperti yang dibayangkan Kyai Wapres?

Sebenarnya ini tema lama. Diskusi kuno. Sudah lama diskusi seperti ini dan sudah lama selesai sebagai sebuah diskusi. Masalahnya, untuk kasus Indonesia, masalah maju tidak maju, tidak seperti pada kasus Malaysia, Iran, Turki, Mesir dan Arab Saudi.

Di Malaysia jauh lebih maju, karena mereka pernah menerapkan NEP yang memberi afirmasi pro umat Islam sehingga secara kemakmuran ekonomi dan pendidikan dapat melompat ke depan. Di Indonesia, selamanya umat Islam terbelakang karena kerap jadi objek politisasi dan eksploitasi. Siapa yang paling ramai diekspor dan diperbudak sebagai TKI, generasi muda umat Islam, bukan?

Di Indonesia, kasusnya adalah, Islam tidak bisa secara leluasa mewujudkan misi politiknya, karena oligarki anti Islam yang sangat kuat bercokol di negeri ini. Ini wilayah agenda politik, ekonomi dan sudah sekaligus agenda budaya karena mengakarnya oligarki ini. Korupsi berasal langsung dari sistem oligarki ini.

Sirkulasi pimpinan nasional dan daerah senantiasa ditentukan oleh pengaruh oligarki ini. Dan oligarki ini jelas merupakan alat bagi imperialisme Barat untuk mengisap dan memeras umat Islam di Indonesia agar terjebak dalam kemunduran dan keterbelakangan. Lalu, kok umat Islam yang disalahkan? Salah alamat.

Adapun supremasi Barat dalam politik, ekonomi dan teknologi secara internasional, diraih melalui serangkaian imperialisme dan kolonialisme. Dan itu jelas terbukti hingga hari ini. Kemerdekaan bangsa-bangsa Muslim diraih pun dengan mengusir kolonialisme tersebut.

Jadi jika ada pertanyaan “Mengapa kaum Muslimin terbelakang?”, jawabannya, karena para penjajah eksternal mereka seperti Barat dan penjajah politik internal mereka seperti oligarki yang menjadi kolaborator penjajah, menghendaki umat Islam tersekat dan terbelenggu dalam penindasan, kekalahan dan kejumudan (stagnasi).

Kalau Kyai Wapres mau membuat maju umat Islam, bukan mencari kesalahan pada pemahaman umat Islam atas agamanya. Itu hanya faktor kecil sekali. Faktor utamanya, jaringan imperialisme ekonomi dan politik yang masih kukuh membelenggu mereka hingga mempengaruhi mental, struktur dan budaya mereka yang stagnan dan beku.

Nah, mumpung Kyai Wapres memiliki porsi kekuasaan, saya bisa sarankan jangan mendekati penyelesaian stagnasi dengan asumsi, tapi harus empiris. Jangan seperti asumsi kuno Sakib Arselan yang tidak memberi penyelesaian konkret. Tapi hanya menyalahkan umat Islam saja.

Jika ingin menyelesaikan pertanyaan kuno ini, bukan sekedar mendirikan Bank Syariah. Bukan sekedar mendirikan pesantren. Bukan sekedar mengalokasi APBN untuk pendidikan Islam. Apalagi menyalahkan praktik umat Islam yang belum sesuai ukuran Barat dan asing tentang pluralisme. Pluralisme tidak ada hubungan dengan kemunduran.

Dan….kita umat Islam dapat membuat ukuran kemajuan kita yang objektif dan bukan bias Barat.

Salah satu ukuran kemajuan umat Islam apabila:

1. Umat Islam merdeka 💯% secara mental dan budaya.
2. Kemandirian politik, ekonomi dan budayanya harus tanpa syarat.
3. Maju secara ekonomi dan teknologi sehingga umat Islam tidak tergantung secara ekonomi dan teknologi yang imbasnya secara politik terintervensi.
4. Umat Islam tidak diatur oleh pihak asing dalam otonomi praktik agama dan budayanya.
5. Umat Islam secara internasional harus mandiri, solider, kerjasama erat dalam berbagai bidang sehingga kemakmuran dan kemajuan mereka nikmati.

Syahrul Efendi Dasopang, The Indonesian Reform Institute

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.