Andreas Hugo Pareira Soroti Lemahnya Diseminasi Pancasila, BPIP Diminta Maksimalkan Teknologi

Teknologi Harus Jadi Instrumen Utama Penyebaran Nilai Pancasila

JAKARTA – Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI dari Fraksi PDIP Andreas Hugo Pareira menilai pentingnya memanfaatkan teknologi komunikasi dalam menyebarluaskan nilai-nilai Pancasila kepada masyarakat. Andreas menyebutka , hingga saat ini Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) belum optimal dalam menggunakan perangkat digital modern untuk menjangkau publik secara luas.

Hal itu disampaikannya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang membahas peta jalan pembinaan ideologi Pancasila serta perkembangan RUU BPIP di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Senin (13/4/2026).

Menurut Andreas, lemahnya strategi komunikasi digital membuat pemahaman masyarakat terhadap Pancasila belum berkembang secara mendalam. Ia menilai, mayoritas masyarakat masih berada pada tahap “tahu”, belum sampai pada tingkat pemahaman yang lebih substantif dan aplikatif.

“Jika tidak memanfaatkan kecanggihan teknologi komunikasi dan tidak didukung sumber daya yang mumpuni, maka proses diseminasi nilai-nilai Pancasila tidak akan berkembang signifikan,” tegasnya.

Kalah Cepat di Ruang Digital

Andreas juga menyoroti minimnya konten kreatif yang menggambarkan implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, seperti praktik gotong royong dan toleransi antarumat beragama. Ia menilai, BPIP justru tertinggal dibanding kelompok lain yang lebih agresif memanfaatkan teknologi digital, meski dengan narasi yang tidak sejalan dengan semangat Pancasila.

“Kita kalah cepat dengan pihak-pihak yang justru menggunakan teknologi untuk menyebarkan hal yang bertolak belakang dengan nilai kebangsaan kita,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi ini menjadi salah satu faktor yang memicu munculnya berbagai fenomena intoleransi di tengah masyarakat, mulai dari pembatasan kebebasan beribadah hingga meningkatnya polarisasi sosial.

Perkuat Pemahaman, Bukan Sekadar Pengetahuan

Andreas menegaskan bahwa BPIP memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan masyarakat tidak hanya mengenal Pancasila secara simbolik, tetapi juga memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mendorong agar penyusunan peta jalan pembinaan ideologi Pancasila dimulai dari hal yang paling mendasar, yakni membangun pemahaman kognitif dan afektif masyarakat terhadap nilai-nilai Pancasila.

“Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat benar-benar memahami, bukan sekadar mengetahui. Dari situ, implementasi akan tumbuh secara alami,” jelasnya.

Komisi XIII DPR RI Dorong Penguatan Strategi Digital

Sebagai mitra kerja BPIP, Komisi XIII DPR RI menegaskan komitmennya untuk terus mendorong penguatan strategi diseminasi berbasis teknologi. Andreas berharap BPIP mampu bertransformasi menjadi lembaga yang adaptif terhadap perkembangan zaman, khususnya dalam memanfaatkan media digital sebagai sarana edukasi ideologi.

Dengan pendekatan yang lebih inovatif dan berbasis teknologi, ia optimistis nilai-nilai Pancasila dapat kembali mengakar kuat di tengah masyarakat, sekaligus menjadi benteng menghadapi berbagai tantangan sosial di era digital.

“Pancasila harus hadir dalam ruang digital dengan cara yang relevan dan mudah dipahami masyarakat. Itu menjadi kunci ke depan,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *