Jika Anda jeli, Anda akan melihat setiap waktunya makan siang, pegawai-pegawai Pemerintah (pusat maupun lokal) yang berseragam warna khaki, suka rombongan memburu tempat-tempat makan enak.
Lalu mereka biasanya mengokupasi space restoran atau rumah makan dengan bergerombol diselingi derai tawa yang mencuri perhatian. Bahkan tidak jarang, jika tempat makan enak itu berada cukup jauh dari kantor pemerintah, itu pun akan ditempuh dengan tanpa soal.
Di kota Bekasi, saya menyaksikan satu restoran terpencil dengan menu masakan tradisional dan bercita rasa rumahan dan tentu saja sangat enak, kerap sekali ramai dengan tamu-tamu berpakaian PNS. Mereka datang rombongan dan bermobil-mobil.
Perilaku ini sudah lama berlangsung dan memiliki arti tersendiri dan dampak lingkungannya berupa sampah organik penyebab emisi metana dari Indonesia No.2 di dunia yang kini jadi “ghibah internasional”, tak dapat tidak tentu ada kaitannya.
Setiap kali para PNS itu makan enak dan banyak pada saat istirahat siang, sudah dapat dipastikan akan ada sekian volume sisa makanan yang berakhir menjadi sampah, mulai dari nasi, tulang, sayur, kulit buah, cairan, kueh, hingga plastik. Dan bagaimana jika Anda membayangkan rutinitas semacam itu terakumulasi berbilang tahun?
Mengenai perilaku pegawai pemerintah yang suka memburu makan enak, sebenarnya hal itu adalah kompensasi atas suasana kerja yang cederung menekan, monoton, feodalistik dan jauh dari kondisi rileks. Akibatnya makan enak sebagai pelampiasan, hiburan dan pelepasan dari tekanan.
Di luar kantor, para aparatur pemerintah tersebut dapat leluasa mengobrol, mencari keseruan dan kelucuan sambil memasok perut dengan makanan enak. Dengan demikian, makan siang yang enak dan kadang berlimpah, merupakan hiburan tersendiri dari kepenatan dan kebosanan rutinitas yang lambat dan feodal.
Demikian arti subjektif yang umumnya dirasakan aparatur pemerintah tersebut, khususnya di level bawah, terkait berburu makan enak. Sementara di level yang tinggi, apalagi di level pengambil keputusan terhadap pembagian dan alokasi anggaran, mereka menikmati makan siangnya di restoran-restoran mewah dan hotel-hotel sambil mengatur dan berbicara dengan para kontraktor dan pemburu cuan dari pihak swasta.
Dan level ini biasanya tidak “seganas” level di bawah dalam konsumsi dan volume makanannya. Namun secara kualitas dan harga, tentu jauh lebih mahal. Di level atas ini, motif makan siangnya bukan untuk menikmati dan menghibur diri, tapi lebih sebagai cara untuk mengkondisikan pembicaraan dengan mitra swasta mereka, dan biasanya juga sesi tersebut kerap dibayar oleh mitra swasta mereka.
Adapun faktor objektif mengapa pegawai pemerintah suka memburu makan enak, karena memang daya beli mereka mendukung hobby tersebut.
Mereka memiliki dukungan anggaran khusus biaya makan, tuntutan jamuan tamu, hingga stabilitas finansial yang memungkinkan mereka meluangkan waktu untuk bersosialisasi dan menikmati kuliner bersama rekan kerja.
Beberapa faktor spesifik yang membentuk kebiasaan dan perilaku ini antara lain:
• Tunjangan dan Uang Makan: Sebagian besar instansi pemerintah memberikan fasilitas tunjangan atau uang makan harian yang dicairkan bersamaan dengan gaji. Berdasarkan standar biaya masukan pemerintah, anggaran ini cukup untuk menikmati hidangan di luar kantor.
• Anggaran Representasi dan Kegiatan: Banyak instansi operasional memiliki anggaran untuk rapat, perjalanan dinas, atau jamuan tamu. Dalam konteks pekerjaan tertentu, menjamu tamu atau mengadakan rapat di luar kantor (seperti di restoran) adalah bagian dari protokol dan komunikasi formal.
• Keamanan Finansial: Profesi aparatur sipil negara menawarkan pendapatan tetap dan jaminan masa depan (seperti pensiun) yang memberikan rasa aman secara finansial. Kepastian ini membuat mereka lebih leluasa menyisihkan anggaran untuk rekreasi kuliner tanpa terlalu cemas terhadap ketidakpastian ekonomi.
• Sosialisasi dan Membangun Relasi: Jam makan siang sering dimanfaatkan oleh pegawai untuk melepas penat dari rutinitas kantor dan membangun koneksi antarrekan kerja maupun mitra.
• Daya Beli Konsisten: Keberadaan pegawai pemerintah di berbagai daerah menciptakan pasar tersendiri. Di banyak wilayah, warung atau tempat makan yang sering dikunjungi oleh pegawai pemerintah kerap dijadikan indikator utama bahwa makanan di tempat tersebut enak dan terjamin.
Meskipun kebiasaan ini sering menjadi sorotan publik, gaya hidup tersebut umumnya didukung oleh komponen pendapatan resmi yang memang telah diatur oleh negara.
Kalau ada satu profesi yang lekat dengan tradisi makan siang yang mencuri perhatian, pegawai pemerintahlah jawabannya. Tulisan ini semata-mata dimaksudkan bukan untuk menyinggung sahabat-sahabat yang bekerja sebagai pegawai pemerintah, namun untuk merenungkan kembali bagaimana suatu kebiasaan yang tak disadari, sedikit banyak menyumbang problem yang dihadapi bersama: emisi metana.
Oleh: Syahrul E Dasopang, Koordinator Forum Koalisi Aktivis untuk Darurat Sampah (Forkads)






