Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN, Alauddin, Makassar
Ada satu penyakit yang tidak tampak di wajah, tetapi menggerogoti jiwa hingga ke akarnya. Ia tidak berisik, tetapi menghancurkan dalam diam. Ia bukan sekadar keinginan memiliki, tetapi hasrat untuk menguasai. Ia bukan sekadar kebutuhan, tetapi nafsu yang tak pernah mengenal kata “cukup”. Itulah avarice, yakni
kerakusan yang menjelma menjadi ideologi batin, mengatur cara berpikir, membentuk cara memandang dunia, dan perlahan menghilangkan makna persaudaraan.
Kerakusan tidak pernah berdiri sendiri. Ia lahir dari ruang kosong dalam jiwa, ketika rasa syukur mengering, ketika hati kehilangan kemampuan untuk merasa cukup, dan ketika nikmat tidak lagi dipandang sebagai amanah, tetapi sebagai hak yang harus terus ditambah. Di titik ini, manusia tidak lagi hidup untuk mensyukuri, tetapi untuk mengumpulkan. Tidak lagi menikmati, tetapi mengejar tanpa henti.
Al-Qur’an menggambarkan watak ini dengan sangat dalam:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ
“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian.” (QS. At-Takatsur: 1)
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang banyaknya harta, tetapi tentang jiwa yang terobsesi untuk terus menambah, tanpa pernah berhenti untuk bertanya, untuk apa semua ini?. Dalam kerakusan, jumlah menjadi ukuran, bukan lagi nilai. Kepemilikan menjadi tujuan, bukan lagi sarana.
Kerakusan melahirkan sifat-sifat lain yang saling menguatkan, seperti lingkaran setan yang sulit diputus. Dari ketamakan lahir ḥirs (ambisi berlebihan), keinginan yang melampaui batas kewajaran. Dari ambisi lahir ḥasad (iri hati), ketidakmampuan menerima kelebihan orang lain. Dari iri lahir kebencian, penolakan terhadap keberadaan orang lain. Dan dari kebencian lahir ‘udwan’(Permusuhan) yang kemudian menghantarkan Dzalim (kezaliman), tindakan melampaui batas terhadap hak orang lain.
Rasulullah SAW. mengingatkan dengan sangat tajam:
لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ذَهَبٍ لَابْتَغَىٰ ثَالِثًا
“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini bukan sekadar ilustrasi, tetapi cermin tentang jiwa manusia yang tidak terlatih untuk bersyukur. Ketika satu tercapai, yang lain diinginkan. Ketika banyak dimiliki, lebih banyak lagi diharapkan. Dan ketika semua itu tidak terpenuhi, lahirlah kegelisahan yang tidak pernah berujung.
Lebih dalam lagi, kerakusan melahirkan hubb al- dunia(cinta dunia berlebihan) yang mengakar kuat dalam hati. Dunia tidak lagi menjadi tempat singgah, tetapi menjadi tujuan akhir. Dalam kondisi ini, nilai-nilai kebenaran sering dikorbankan demi kepentingan.
Kejujuran ditukar dengan keuntungan. Amanah diganti dengan manipulasi. Bahkan kebenaran pun bisa dipelintir untuk membenarkan kepentingan pribadi.
Allah SWT. mengingatkan:
وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا
“Dan kalian mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20)
Cinta yang berlebihan ini tidak hanya mengikat hati, tetapi juga membutakan nurani. Dalam kondisi ini, orang tidak lagi melihat mana hak dan mana yang bukan haknya. Semua ingin dimiliki, semua ingin dikuasai, bahkan jika itu harus mengorbankan orang lain.
Kerakusan juga melahirkan tama‘ (rakus berharap pada milik orang lain), sebuah kondisi batin yang membuat seseorang tidak tenang melihat apa yang dimiliki orang lain. Ia selalu merasa kurang, bukan karena tidak memiliki, tetapi karena tidak mampu melihat nikmat yang sudah ada. Ia membandingkan dirinya dengan orang lain, bukan untuk belajar, tetapi untuk merasa iri.
Dalam ungkapan para ulama, disebutkan:
القناعة كنز لا يفنى
“Qana’ah (merasa cukup) adalah harta yang tidak pernah habis.”
Namun dalam jiwa yang dikuasai kerakusan, qana’ah menjadi sesuatu yang asing. Ia lebih memilih gelisah dalam kelimpahan daripada tenang dalam kesederhanaan. Ia lebih suka mengejar bayangan daripada mensyukuri kenyataan.
Yang lebih berbahaya, kerakusan sering kali menyamar dalam bentuk yang tampak mulia. Ia bisa bersembunyi di balik ambisi prestasi, di balik keinginan berpengaruh, bahkan di balik klaim kebenaran. Seseorang bisa saja berbicara tentang nilai, tetapi sebenarnya sedang mengejar dominasi. Ia bisa tampak membela kebenaran, tetapi sesungguhnya sedang memperjuangkan kepentingan.
Di sinilah avarice mencapai bentuk paling halus, ketika ia tidak lagi dikenali sebagai penyakit, tetapi dianggap sebagai keutamaan. Ketika ambisi dipuja, dan kesederhanaan dianggap kelemahan. Ketika penguasaan dianggap keberhasilan, dan berbagi dianggap kerugian.
Padahal, Islam mengajarkan keseimbangan yang indah. Bahwa memiliki itu boleh, tetapi tidak boleh dimiliki oleh apa yang kita miliki. Bahwa mengejar itu sah, tetapi tidak boleh kehilangan arah. Bahwa menjadi besar itu baik, tetapi tidak dengan mengecilkan orang lain.
Allah SWT. memberikan gambaran tentang jiwa yang selamat:
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9)
Mensucikan jiwa berarti membersihkannya dari kerakusan, dari keinginan yang melampaui batas, dari ambisi yang tidak terkendali. Karena pada akhirnya, yang merusak bukanlah apa yang kita miliki, tetapi bagaimana kita memandang apa yang kita miliki.
Kerakusan menjanjikan kepuasan, tetapi menghadirkan kegelisahan. Ia menjanjikan kekuasaan, tetapi melahirkan ketakutan. Ia menjanjikan kebahagiaan, tetapi menghadirkan kehampaan.
Dan di ujung semua itu, manusia akan menyadari satu hal, bahwa yang ia kejar seumur hidup tidak pernah benar-benar ia miliki, dan yang ia abaikan yaitu ketenangan hati, justru itulah yang paling ia butuhkan.
Maka barangkali, jalan keluar dari semua ini bukan dengan memiliki lebih banyak, tetapi dengan menginginkan lebih sedikit. Bukan dengan menguasai lebih luas, tetapi dengan mengendalikan diri lebih dalam. Bukan dengan mengejar dunia tanpa henti, tetapi dengan belajar berkata: cukup.
Karena ketika hati telah mampu berkata cukup, di situlah ia benar-benar menjadi kaya. Dan ketika jiwa telah bebas dari kerakusan, di situlah persaudaraan kembali menemukan maknanya, yg tulus, jernih, dan penuh cinta.
#Wallāhu A‘lam Bish-Shawab






