Ketika Pingpong Menyatukan Warga dan Menolak Sekat: Wadah Silaturahmi dan Persatuan Bangsa

Pak Haji Firman dan Pak Haji Slamet

Oleh: H. Firman, Tokoh Matraman dan Penggiat Tenis Meja (Pingpong)

Olahraga tenis meja—atau yang lebih populer disebut pingpong—kini telah menjelma menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Di hampir seluruh kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota-kota lainnya, pingpong tidak lagi sekadar olahraga prestasi, melainkan aktivitas sosial yang hidup di tengah masyarakat. Ia tumbuh dari bawah, merasuk hingga ke tingkat RT dan RW, berkembang secara swadaya dengan sarana dan prasarana yang dibangun dari gotong royong warga. Inilah bukti bahwa pingpong adalah olahraga rakyat yang inklusif, murah, dan menyatukan.

Antusiasme masyarakat terhadap olahraga ini sangat luar biasa. Para pecinta pingpong selalu menunjukkan euforia setiap kali ada penyelenggaraan event atau turnamen, baik dalam skala kecil maupun besar. Meja-meja pingpong di balai warga, garasi rumah, hingga ruang terbuka menjadi saksi betapa olahraga ini bukan hanya soal kompetisi, tetapi juga soal kebersamaan, silaturahmi, dan semangat hidup sehat.

Namun, di tengah semangat tersebut, tidak jarang muncul kendala dalam penyelenggaraan turnamen. Beberapa event menetapkan persyaratan yang cukup ketat, seperti kewajiban ber-KTP setempat atau administrasi yang kompleks. Akibatnya, banyak pencinta pingpong yang sebenarnya memiliki semangat dan kemampuan untuk berlaga justru harus gigit jari karena terbentur aturan. Kondisi ini tentu patut menjadi bahan refleksi bersama, agar olahraga rakyat tidak justru menjadi eksklusif dan membatasi partisipasi.

Di sinilah peran komunitas menjadi sangat penting. Salah satu contoh nyata adalah keberadaan PTM Mandiri, yang berlokasi tepat di belakang Kantor Kecamatan Matraman, Jakarta Timur. PTM Mandiri hadir bukan hanya sebagai tempat berlatih, tetapi sebagai ruang sosial yang merangkul semua kalangan. Melihat banyaknya pemain yang ingin berpartisipasi namun terkendala persyaratan dalam berbagai turnamen, PTM Mandiri mengambil inisiatif positif.

Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, PTM Mandiri menyelenggarakan Tumini Double dan Single. Inisiatif ini patut diapresiasi karena bertujuan mengakomodir sebanyak mungkin pecinta pingpong, khususnya PTM-PTM di wilayah Matraman dan sekitarnya. Turnamen ini bukan semata soal menang dan kalah, melainkan ajang silaturahmi, berbagi semangat, serta menjaga denyut olahraga pingpong tetap hidup di tengah masyarakat.

Lebih dari itu, kegiatan semacam ini mencerminkan nilai-nilai luhur yang sejalan dengan semangat Ramadhan: kebersamaan, inklusivitas, dan persaudaraan. Pingpong menjadi medium pemersatu lintas usia, latar belakang, dan kemampuan. Dari sinilah lahir ekosistem olahraga yang sehat—bukan hanya melahirkan atlet berprestasi, tetapi juga masyarakat yang guyub dan saling mendukung.

Saya berharap inisiatif PTM Mandiri ini dapat berjalan sukses dan menjadi inspirasi bagi komunitas pingpong lainnya. Sudah saatnya kita mendorong lebih banyak event yang ramah, terbuka, dan mengakomodir semangat akar rumput. Karena dari meja-meja pingpong sederhana di kampung-kampung itulah, persatuan dan prestasi bisa tumbuh bersama.

Selamat dan sukses untuk PTM Mandiri. Teruslah menjadi ruang harapan bagi para pencinta pingpong, dan teruslah mempererat tali silaturahmi di antara kita semua.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *