PANDEGLANG— Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA) kembali menegaskan langkah transformasinya sebagai perguruan tinggi yang siap bersaing di tingkat internasional. Hal itu tercermin dalam penyelenggaraan International Seminar Global Transformation Education 2026 yang digelar di Kampus UNMA, Pandeglang, Selasa (3/2/2026).
Anggota DPR RI, Dr. KH. Jazuli Juwaini, MA, menilai kegiatan akademik berskala global tersebut menjadi indikator penting keberhasilan Mathla’ul Anwar dalam membangun kualitas pendidikan tinggi yang berorientasi masa depan.
Dalam opening remarks-nya, Jazuli menyebut UNMA telah melampaui sekadar simbol institusi daerah, dan mulai tampil sebagai kampus dengan reputasi akademik yang diperhitungkan di tingkat internasional.
“Ini bukan sekadar seminar, tetapi bagian dari strategi besar membangun ekosistem akademik yang terbuka, kolaboratif, dan berdaya saing global,” ujar Jazuli di hadapan sivitas akademika dan peserta seminar.
Menurut Jazuli, kemampuan UNMA menghadirkan akademisi dan profesor dari berbagai negara menunjukkan keseriusan manajemen universitas dalam menjawab tantangan globalisasi pendidikan. Ia menilai, kolaborasi lintas negara menjadi prasyarat penting dalam penguatan mutu pembelajaran, riset, serta pengembangan keilmuan di era transformasi digital.
Tokoh nasional yang juga pernah aktif di kepengurusan PB Mathla’ul Anwar ini menegaskan bahwa keberhasilan UNMA menyelenggarakan forum internasional memiliki makna simbolik dan strategis. Di tengah keterbatasan geografis, UNMA justru mampu membuktikan bahwa kualitas dan jejaring global tidak ditentukan oleh lokasi, melainkan oleh visi dan konsistensi pengelolaan institusi.
“UNMA berhasil menunjukkan bahwa kampus di daerah pun mampu membangun pengakuan internasional. Ini sekaligus memperkuat posisi Mathla’ul Anwar sebagai ormas pendidikan yang adaptif terhadap perubahan zaman,” tegasnya.
Lebih jauh, Jazuli menempatkan UNMA sebagai representasi keberlanjutan peran historis Mathla’ul Anwar dalam mencetak sumber daya manusia unggul. Ia menilai, transformasi pendidikan tinggi yang dilakukan UNMA merupakan bentuk konkret kontribusi ormas Islam tertua tersebut dalam pembangunan SDM nasional.
Apresiasi juga diarahkan kepada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNMA yang menjadi motor utama penyelenggaraan seminar. Jazuli berharap FKIP terus memperkuat perannya sebagai pusat pengembangan riset dan inovasi pendidikan, dengan pendekatan global yang tetap berpijak pada nilai keislaman dan kebangsaan.
Seminar internasional ini menghadirkan sejumlah akademisi lintas negara, di antaranya Prof. Tuomo Tapani Rautakivi dari Centria University Finlandia, Prof. Mazlini binti Adnan dari Sultan Idris Education University Malaysia, Ramadhoni, Ph.D dari BRIN Indonesia, serta Dr. Meliyawati dari Universitas Mathla’ul Anwar.
Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Rektor UNMA Prof. Adriansyah bersama Dekan FKIP Dr. Asep Sahrudin, dan secara resmi dibuka oleh Ketua Umum PB Mathla’ul Anwar KH. Embay Mulya Syarief yang diwakili Ketua Bidang Pendidikan Dr. Muhammad Zen.
Melalui forum akademik ini, UNMA menegaskan komitmennya dalam memperkuat tridarma perguruan tinggi, memperluas jejaring internasional, serta membangun reputasi akademik yang kredibel. Langkah tersebut diharapkan menjadi fondasi penting bagi Mathla’ul Anwar dalam memperluas kontribusinya bagi kemajuan pendidikan dan pembangunan SDM Indonesia.






