BEKASI — Desa Wisata Kawung Tilu Ciranggon resmi diperkenalkan kepada publik sebagai destinasi wisata berbasis kearifan lokal dan kelestarian alam. Peresmian ini menjadi tonggak penting dalam upaya penguatan ekonomi desa yang berkelanjutan, sekaligus wujud nyata sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan para pemangku kepentingan dalam membangun potensi lokal Kabupaten Bekasi.
Desa Wisata Kawung Tilu Ciranggon hadir dengan konsep wisata edukatif yang mengedepankan nilai budaya, sejarah, serta harmoni dengan alam. Kawasan ini menawarkan pengalaman autentik pedesaan, mulai dari bentang alam hijau, aktivitas pertanian rakyat, hingga ragam tradisi lokal yang masih lestari dan dijaga secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Ketua Desa Wisata Ciranggon sekaligus pengurus Kawung Tilu, Ijaz Alhadi, menegaskan bahwa pengembangan desa wisata ini dilandasi semangat pemberdayaan masyarakat dan pelestarian nilai-nilai lokal. Menurutnya, Kawung Tilu bukan sekadar ruang rekreasi, tetapi wahana pembelajaran sosial dan ekologis yang hidup.
“Desa Wisata Kawung Tilu kami bangun dari kesadaran bersama bahwa desa memiliki kekuatan besar jika dikelola dengan gotong royong. Ini bukan hanya tentang wisata, tetapi tentang martabat masyarakat desa, tentang bagaimana alam, budaya, dan ekonomi bisa tumbuh seimbang,” ujar Ijaz kepada awak media, Jumat (19/12/2025).
Ijaz menambahkan, Kawung Tilu dirancang sebagai ruang belajar terbuka bagi semua kalangan. Wisatawan diajak memahami filosofi hidup masyarakat desa yang selaras dengan alam, sekaligus berkontribusi langsung pada ekonomi lokal.

“Kami ingin setiap pengunjung pulang membawa nilai, nilai tentang kebersahajaan, kepedulian lingkungan, dan semangat kebersamaan. Kawung Tilu adalah tempat belajar, bukan sekadar tempat berfoto,” tegasnya.
Peresmian Desa Wisata Kawung Tilu Ciranggon sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, yang menekankan bahwa pembangunan pariwisata harus mendorong pemerataan kesempatan berusaha, meningkatkan kesejahteraan rakyat, serta menjaga kelestarian lingkungan dan nilai budaya. Kawung Tilu diproyeksikan menjadi model praktik baik pariwisata berbasis komunitas (community based tourism) di Kabupaten Bekasi.
Keterlibatan aktif masyarakat menjadi fondasi utama pengembangan desa wisata ini. Warga setempat berperan sebagai subjek pembangunan, mulai dari pengelola homestay, pemandu wisata, pelaku UMKM, hingga penggerak seni dan budaya lokal. Pola partisipatif tersebut diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan masyarakat secara berkeadilan dan berkelanjutan.
Dari sisi edukasi, Desa Wisata Kawung Tilu Ciranggon dirancang sebagai laboratorium sosial dan budaya. Pelajar, mahasiswa, hingga komunitas dapat belajar langsung mengenai pertanian berkelanjutan, konservasi lingkungan, serta kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi. Pendekatan ini menjadikan desa wisata bukan hanya tujuan kunjungan, tetapi pusat transfer pengetahuan. Ujarnya.
Pemerintah daerah memandang peresmian Desa Wisata Kawung Tilu Ciranggon sebagai bagian dari strategi jangka panjang pembangunan daerah. Pariwisata desa dinilai mampu menjadi penopang ekonomi alternatif yang tangguh, sekaligus memperkuat identitas Kabupaten Bekasi sebagai wilayah yang tidak hanya industri, tetapi juga kaya akan potensi alam dan budaya.
Ke depan, pengelolaan Desa Wisata Kawung Tilu Ciranggon akan diarahkan pada tata kelola yang profesional, transparan, dan berkelanjutan. Penguatan kapasitas sumber daya manusia, optimalisasi promosi digital, serta kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar Kawung Tilu mampu dikenal luas hingga tingkat regional dan nasional. Pungkas Ijaz.
Peresmian Desa Wisata Kawung Tilu Ciranggon bukan sekadar seremoni, melainkan ikrar kolektif untuk menjaga warisan alam dan budaya demi generasi mendatang. Dari Ciranggon, harapan itu menyala: bahwa desa bukanlah pinggiran, melainkan pusat peradaban baru yang tumbuh dari akar kearifan lokal menuju masa depan yang berdaya, mandiri, dan bermartabat.
(CP/red)






